Oleh: giovanyglagun | September 18, 2009

Robot Stinky

Pernah mendengar tentang Robot Stinky? Stinky adalah robot yang benar-benar jelek, perangkat aneh yang dibentuk dengan cat kasar, pipa murahan ditempel-tempelkan bersama. Lem perekat yang biasa digunakan untuk menyatukan Stinky berbau busuk, sesuai dengan namanya.

Kantor Riset Ruang Angkasa Amerika Serikat dan NASA mengadakan kontes robot di bawah air, kompetisi teknologi canggih bawah laut yang dioperasikan dari jauh (Marine Advanced Technology Remotely Operated Vehicle Competition). Stinky masuk dan disambut dengan gelak tawa. Stinky harus menghadapi peserta dari Institut Teknologi Massachusetts, sebuah mesin gagah yang diciptakan oleh 12 insinyur elit dan mahasiswa ilmu computer.

Stinky bernilai seluruhnya 800 dolar, yang didonasi dari bisnis setempat. Penciptanya adalah empat anak remaja dalam celana longgar dan sepatu olahraga, para pelajar di Sekolah Menengah Carl Hayden di Phoenix, Arizona. Keempat anak ini adalah imigran Meksiko illegal. Mereka melihat percobaan yang dilakukan oleh beberapa guru sains Hayden yang menawarkan untuk melatih sebuah tim dalam kontes, dan mereka mendaftar. Mereka membuat Stinky dari pipa PVC dan bagian-bagian computer yang sudah tidak terpakai, kemudian pergi ke Santa Barbara, California, di mana kontesnya akan diadakan.

Kompetisi ini mewajibkan konstruksi sebuah robot yang bias mengeksplorasi sebuah tiruan kapal selam yang tenggelam. Ketika keempat anak Hayden melihat peserta dari MIT, sekolah teknik paling bergengsi di Amerika, mereka merasa terintimidasi. Tetapi suatu hal lucu terjadi dalam perjalanan menuju kontes. Stinky memenangkan hadiah utama. Ia melakukan tugas yang tidak bias dilakukan robot MIT : mengisap cairan dari wadah kecil 12 kaki di bawah air.

Mengapa saya menyukai cerita ini, tiap bagiannya yang nyata? Karena saya menyukai kisah-kisah tentang orang kecil yang berjuang melawan rintangan panjang dan keluar sebagai pemenang.

Oleh: giovanyglagun | September 8, 2009

Harapan Baru untuk Penderita Kanker

“Jangan biarkan kanker merenggut hidup orang yang kita sayangi”

Jika seseorang didiagnosa kanker, ia memerlukan dukungan dan perhatian pihak keluarga serta semangat pantang menyerah dari dirinya untuk membantu melawan penyakit ini. Tak lupa, tentunya dibutuhkan penangan medis yang tepat dan efektif untuk menolong penyakitnya, dan salah satu tempat yang tepat ialah Rumah Sakit Modern Guangzhou China.

Rumah sakit ini menciptakan metode terapi baru, “Target Invasive Minimal: Kombinasi pengobatan barat dan timur” yang efektif untuk menolong penderita kanker. Kombinasi terapi barat dan timur ini telah memberikan teknik perawatan yang lebih banyak dan berkualitas.

Melalui penerapan target Invasive Minimal, Rumah Sakit Modern Hospital Guangzhou China, telah memberikan hasil perawatan yang lebih baik. Oleh karena itu, dengan hasil perawatan itu, dapat memberikan lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup para pasiennya.

Untuk memberikan informasi lebih detil tentang metode terapi dari Rumah Sakit Guangzhou China, para ahli medis kanker dari China akan mengadakan seminar bertajuk “Target Invasive Minimal, Kombinasi Pengobatan Barat dan Timur”, pada tanggal 12 September 2009, di Novotel Hotel Jakarta. Dalam seminar ini juga akan dibahas perihal penanganan penyakit kanker dan kasus-kasus rehabilitasi. Serta Tanya jawab seputar penyakit kanker. Selamat berpatisipasi!

Bagi anda yang tidak dapat datang ke seminar tersebut, dapat langsung datang berkonsultasi ke RS Modern Guangzhou, pusat konsultasi di Jakarta. Dan dapat mendengarkan Radio Cakrawala 98.3 FM, setiap Senin. Pada pukul 09.00 – 10.00 WIB.

Kompas KLASIKA

8 September 2009

Oleh: giovanyglagun | September 3, 2009

Menjaga Hati Menuju Kesucian Diri

Bersikap layaknya orang yang mampu menahan rasa marah dan kesal bukan hal yang mudah. Sebab, setiap orang memiliki amarah sehingga mudah sekali terjerat rasa kesal dan marah. Akan tetapi, saat menjalani ibadah puasa, segala macam amarah sebaiknya tetap dijaga.

Untuk dapat meraih kesucian hati, anda dapat memulainya dari menjaga hati. Sebab, hati adalah sumber untuk merasakan segala macam yang dipikirkan sehingga dapat mejadi pikiran negative maupun positif.

Kesucian hati sama artinya dengan terhindar dari segala macam penyakit hati, seperti malas, iri, dengki, keras kepala, dan egois. Mencapai kesucian hati, bukanlah hal yang mudah. Ya, terkadanag beberapa orang, membicarakan kejelekan orang lain secara tidak sengaja karena kebiasaan.

Menilai kesucian hati memang dapat dilakukan diri sendiri dengan melatih diri untuk berbuat baik setiap harinya. Ya, menyadari segala macam bentuk kesalahan yang dilakukan, dapat membuka pikiran untuk menilai dairi sendiri sehingga dapat perlahan-lahan merubah sikap yang tidak baik.

Menjaga hati di kantor

Saat berada di kantor, berkumpul dengan rekan kerja terkadang hanyut dalam pembicaraan yang tidak baik seperti membicarakan kejelekan orang lain, ataupun bersenda gurau yang menyakti hati lawan bicara. Menyadari hala-hal kecil sperti itu dapat melatih diri untuk melatih kesucian hati. Sebab, pelan-pelan anda akan belajar untuk menjaga mulut dan pikiran serta hati untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti orang-orang.

Selain itu, rasa lelah spulang dari kantor pun dapat menyebabkan emosi mudah meledak-ledak sehingga kesalahan kecil yang terjadi di rumah menjadi besar. Ya, berusaha untuk menjadi sabar dan menjaga hati dari emosi juga merupakan salah satu cara untuk menjaga hati menuju kesucian.

Menjaga hati di rumah

Sebagai tempat berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, rumah tenteu memiliki peran yang penting. Oleh sebab itu, rumah selalu diisi dengan berbagai macam hal yang menyenangkan.

Pada bulaln Ramadhan ini, momen berkumpul bersama keluarga semakin intensif. Sebut saja ketika buka puasa dan sahur bersama. Biasanya sebelum memasuki waktu berbuka puasa bersama, setiap anggota keluarga akan berkumpul di rumah.

Untuk menjaga hati agar tetap harmonis dan religius, biasanya banyak keluarga mengalunkan musik religi sebagai pengantar momen berbuka puasa. Alunan nada musik religi akan semakin mengena di hati jika keluar dari audio yang berkualitas.

Semoga di bulan Ramadhan ini, semua manusia dapat menjaga hati. Semua itu dengan harapan agar di hari kemenangan nanti semua dapat kembali menuju ke kesucian diri.

Kompas KLASIKA

Jumat, 4 September 2009

Oleh: giovanyglagun | September 3, 2009

Nyaman dengan Tanaman dalam Rumah

Pencemaraan udara, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, menjadi hal yang jamak ditemui. Bukan hanya dari kendaraan bermotor, pencemaran udara juga berasal dari asap buangan pabrik, asap rokok, bau lem, hingga zat kimia cat dinding dan furniture yang ada di dalam ruangan.

Selain tidak nyaman, pencemaran tersebut berdampak buruk pada kesehatan, antara lain gangguan pernafasan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan pencemaran udara, dalam hal ini di rumah, salah satunya dengan meletakkan tanaman di dalam ruangan. Selain menambah keindahan, tanaman tersebut dapat berfungsi sebagai antipolutan.

Tanaman yang diletakkan di dalam ruangan, atau yang disebut dengan tanaman indoor umumnya merupakan tanaman yang dapat bertahan dengan cahaya matahari yang minim. Beberapa tanaman indoor terkadang memiliki daun yang lebih mengilap dibandingkan tanaman outdoor. Contoh jenis tanaman yang dapat diletakkan di dalam rumah antara lain suplir, kuping gajah, palem, berbagai jenis bonsai, dan kaktus.

Pot dapat digunakan sebagai alas untuk peletakkan tanaman di dalam ruangan. Pot yang digunakan sebaiknya diatur besarnya agar sesuai dengan besar tanaman dan ruangan. Sebaiknya serasikan juga warna dan corak pot dengan suasana ruangan dan tanaman. Peletakkan pot, tak terbatas hanya di lantai. Untuk pot-pot berukuran kecil, dapat juga diletakkkan di atas meja atau di atas rak hias.

Untuk melakukan perawatan tanaman indoor, sama seperti tanaman outdoor, adakalanya mesti memeberi pupuk dan memanagkas daun-daun yang layu. Hal ini unutk membantu pertumbuhan tanaman dengan baik. Selain itu, beberapa hari sekali, tanaman indoor sebaiknya dibawa ke luar rumah agar terkena matahari sekitar dua samapai tiga jam.

Tanaman indoor dapat membuat ruangan di dalam rumah menjadi lebih alamai dan segar, warnah hijau yang dipancarkan oleh tanaman dapat memebri kesan hidup pada ruangan.

Kompas KLASIKA

Jumat, 4 September 2009

Oleh: giovanyglagun | Juli 16, 2009

Hari Yang Hampir Dilupakan Bab 3

3

Sejarah Terbaik Menyimpan Hal – hal Tersembunyi

Kaisar Rusia, pada suatu ketika, berjalan-jalan di satu taman indah yang bersebelahan dengan istananya. Ia dating kepada seorang prajurit penjaga yang sedang berdiri dekat sebidang tanah yang bersemak. Kareana terkejut mendapati pengawal itu di sana, ia pun bertanya, “Apa yang sedang kamu kerjakan?” “Saya tidak tahu,” jawab si prajurit itu, “saya hanya mengikuti perintah kapten.” Segera kaisar itu bertanya kepada kapten, “Mengapa kamu perintahkan seorang prajurit di tanah yang bersemak?” “Karena memang peraturan selama ini demikian” kapten itu menjawsab, “saya tidak tahu mengapa harus begitu.” Setelah diselidiki, kaisar itu mendapati bahwa tidak seorang pun di istananya yang mengetahui sejak kapan peraturan itu berlaku. Kaisar pun segera memeriksa arsip yang berisi catatan dahulu kala, ia sangat kaget apa yang didapati-nya. Seratus tahun sebelumnya, Chaterine Agung telah memerintahkan untuk menanam sejenis bunga mawar liar. Kemudian ia menempatkan seorang prajurit menjaga tempat itu agar tidak ada orang yang menginjak tanaman yang muda itu. Tanaman seorang pengawal tetap berdiri di sana dan menjaga . akan tetapi dia tidak tahu apa yang sedang ia jaga.

“Sungguh aneh, tapi nyata!” anda boleh saja katakana demikian. Akan tetapi, demikian jugalah halnya yang sedang terjadi pada banyak orang di gereja-gereja Kristen – sedang memelihara, mempercayai, dan mempertahankan satu pengajaran tertentu yang sebenarnya dimasukkan ke dalam gereja melalui tradisi – satu pengajaran palsu dan bukan perintah Allah.

Pada bab ini kita akan melihat jelas bagaimana tradisi ditinggikan melebihi Friman Allah. Kita juga akan lihat bahwa Firman Allah sudah menubuatkan hal itu akan terjadi – suatu usaha akan dilakukan untuk mengubah hukum Allah dan meninggikan tradisi. Arsip catatan sejarah akan menjelaskannya.

Sebelum menelusuri hal ini lebih jauh, kita harus ingat satu perkara: Anda dan saya membaca buku ini dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Kita datang dari organisasi gereja yang berbeda. Namun kita mempunyai satu jalur yang sama sepanjang pengalaman hidup. Kita mengasihi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan kita rindu mengikuti kebenaran-Nya. Itulah sebabnya kita mempelajarinya, bukankah demikian? Kita rindu mengetahui kebenaran dan rindu untuk mengikutinya. Alkitab sendiri memberikan kepada kita nasihat berikut ini:

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai pekerja yang tidak usah melu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” (2 Tim 2:15)

Jadi, agar kita dapat memahami kebenaran Allah maka kita harus mempelajari Firman-Nya. Dan Firman-Nya itu, walaupun ditulis ratusan tahun yang lalu, tetap menyatakan kebenaran-kebenaran yang berlaku sepanjang zaman sehingga kita dapat menerapkannya pada zaman mana kita hidup sekarang ini.

Nubuatan-nubuatan Daniel dan Wahyu dapat diterapkan secara khusus pada akhir dunia ini. Yesus mengutip nubuatan Daniel dan secara pribadi menganjurkan agar para murid-Nya mempelajarinya. Ketika murid-murid-Nya bertanya, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi [kebinasaan kaabah], dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3), sebagian dari jawaban-Nya adalah:

“Jadi, apabila kamu melihat Pembinasaan keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel – para pembaca hendaklah memperhatikannya – maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.” (Mat 24:15, 16)

Yesus memberikan amaran kepada generasi pada zaman-Nya bahwa nubuatan-nubuatan yang berhubungan dengan kebinasaan Yerusalem segera akan digenapi: Jawaban-nya kepada murid-murid itu berisi nubuatan tentang Yerusalem dan juga akhir dunia ini. Dan Ia meminta murid-murid itu mempelajari nubuatan Nabi Daniel agar mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang kedua peristiwa tersebut.

Dalam kitab Daniel, nabi itu telah memaparkan jenjang sejarah untuk beratus-ratus tahun lamanya – dari zaman Babel sampai kepada zaman kita – dengan ketepatan yang luar biasa. Melalui penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi yang menggunakan lambing, Allah berkomunikasi dengan alat peraga, untuk membagikan kebenaran-Nya keapada kita. Filsuf Cina, Konfutse, mengatakan : “Satu peraga sama nilainya dengan seribu kata.” Marilah kita lihat lebih rinci gambaran yang diberikan Daniel kepada kita.

Dalam Daniel pasal dua, Allah menubuatkan jangkauan sejarah dunia yang ratusan tahun lamanya melalui ilustrasi sebuah patung manusia yang terbuat dari berbagai logam. Dalam Daniel 7, jenjang sejarah yang sama dinyatakan dengan lebih rinci lagi, namun kali ini dengan menggunakan empat binatang untuk menggambarkan sejarah perkembangan umat manusia. Pasal 8 dan 11 berisi gambaran yang lebih banyak. Masing-masing pasal ini menceritakan jenjang sejarah dunia yang sama. Masing-masing mempunyai tambahan informasi tertentu, dan beberapa di antaranya menekankan tentang generasi terakhir dunia ini.

Daniel 7 dimulai dengan tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel. Daniel mendapat sebuah mimpi dan ia mengingat semua dengan jelas. Perhatikanlah penjelasan Daniel tentang penglihatan itu pada ayat 2 sampai 7:

“Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angina dari langit mengguncangkan laut besar, dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.

Yang pertama rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia.

Dan tampak ada seekor binatang yang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Dan demikianlah dikatakan kepadanya: Ayo, makanlah daging banyak-banyak.

Kemudian aku melihat tampak seekor binatang lain, rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan.

Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang keempat yang mnakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh.”

Satu pemandangan lalut yang luar biasa di mana angina kencang sedang bertiup ketika Daniel melihat di dalam penglihatannya. Angina kencang bertiup menggoncangkan gelombang laiut itu dan tiba-tiba keempat binatang yang aneh dan besar itu keluar dari dalamnya. Angin, air, dan binatang adalah lambang-lambang yang biasa dipergunakan di dalam Alkitab. Hal-hal itu melambangkan lautan manusia, kumpulan orang banyak, bangsa-bangsa, dan bahasa – lautan manusia sepanjang zaman (bacalah Wahyu 17:15). Angin sering menggambarkan adanya peperangan dan pertikaina dan berhubungan dengan peristiwa itu – diplomatic, militer dan politik – yang membentuk adanya sekajarah dunia ini (bacalah Yeremia 49:36).

Daniel melanjutkan : “Keempat binatang besar itu adalah keempat kerajaan yang akan muncul dari dalam bumi ini” (Dan 7:17). Sebagai akibat adanay peperangan antar bangsa itu, empat kerajaan besar akan bangkit dan jatuh. Dan keempat logam – yaitu emas, perak, tembaga dan besi – dalam Daniel 2 menggambarkan adanya keempat kuasa ini. Catatan sejarah dunia dengan jelas mendukung hal ini.

Memang, sejak zaman Daniel hanya terdapat empat kerajaan yang universal di bumi ini. Marilah kita memperhatikan dengan singkat urutan sejarah dunia sebagaimana yang dinyatakan oleh Daniel dalam gambaran keempat binatang besar itu.

Pertama, muncullah seekor singa yang mempunyai sayap burung rajawali. Sama seperti logam emas di dalam patung Daniel 2, hal itu melambangkan kerajaan Babel. Lambang-lambang yang digunakan untuk menjelaskan Babel adalah makhluk dan logam yang sangat luar biasa; emas, logam yang paling mulia; singa, raja binatang. Babel kuno adalah satu kerajaan yang hebat! Penemuan ilmu purbakala menunjukkan bahwa orang-orang Babel menggunakan singa yang bersayap burung rajawali sebagai lambang kekuatan mereka. Lambang-lambang itu adalah juga gambar yang terdapat di dinding tembok kota itu. Nabi Yeremia juga menjelaskan keuatan hebat Babel yang mengalahkan musuhnya sama seperti singa.

Kedua, muncullah seekor beruang dengan tiga tulang rusuk di dalam mulutnya. Pada tahun 539 S.M. Media dan Persia mengalahkan Babel. Tulang-tulang rusuk, yang dimaksudkan, tidak lain adalah tiga kerajaan yang dikalahkan membuat kerajaan Persia memperoleh kekuasaanya, yaitu : Mesir, Lydia, dan Babel. Inilah kerajaan dunia yang kedua. Hal itu dilambangkan dalam patung Daniel 2 dengan logam perak. Media dan Persia dengan jelas digambarkan sebagai seekor beruang yang haus darah. Tanpa diragukan lagi, pasukannya memang sangat kasar dan kejam didalam penyerangannya.

Ketiga, seekor macan tutul yang bersayap empat pada punggungnya, yang menggambarkan kerajaan ketiga, menggulingkan kerajaan beruang. Orang-orang Yunani, di bawah pimpinan Iskandar Zulkarnain, secara harfiah memang seperti terbang memperoleh kemenangan demin kemenangan ketika mereka mengalahkan Media dan Persia dan seluruh dunia. Macan tutul itu mempunyai empat kepala. Ini melambangkan empat pembagian wilayah kerajaan itu setelah Iskandar Zulkarnain meninggal dunia. Kerajaan ini digambarkan sebagai logam tembaga pada patung Daniel 2.

Keempat, binatang yang menakutkan dan dahsyat, sering digambarkan seperti seekor naga, yang meremukkan segala sesuatu yang manghalanginya. Binatang ini melambangkan kuasa kerajaan Romawi yang kejam, dan yang menghancurkan. Ia menguasai bumi ini selama enam abad, sejak tahun 168 S.M. Pada patung yang besar itu, Kekaisaran kerajaan dunia yang keempat ini disamakan seperti besi ayng “meremukkan dan menghancurkan segala sesuatu.” Memang ia akan “menghancurkan dan membinasakan semua mangsanya.” Dan kerajaan besi itu memang bertindak persis seperti itu!

Kelima, sepuluh tanduk, yang melambangkan sepeuluh kerajaan, muncul dari dalam binatang yang menakutkan itu. “Kesepluh tanduk itu adalah kesepuluh raja yang muncul dari kerajaan itu” (Dan 7:24). Tidak ada binatang yang secara alami mempunyai sepuluh tanduk. Kesepuluh tanduk yang terlihatkan kepada Daniel 1000 tahun sebelumnya dan secara tepat menubuatkan pecahnya kerajaan Romawi menjadi sepuluh bagian. Pembagian Kekaisaran Romawi merupakan landasan munculnya bangsa-bangsa Eropa Barat modern. Catatan sejarah membuktikan kebenarannya. Romawi menguasai Eropa bagian barat sampai pertengahan abad keempat ketika ia diruntuhkan, bukan oleh bangsa lain, akan tetapi dari dalam kerajaan itu sendiri oleh suku Barbar yang suka berperang.

Keenam, sesuatu yang baru dan kelihatannya tidak biasa muncul di hadapan Daniel. Persitiwa-peristiwa penting berikutnya di Eropa sesudah sepuluh kerajaan itu telah dinyatakan. Daniel menulis:

“Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tida dari tandunk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang sombong. (Dan 7:8) Sesudah mereka (kesepuluh kerajaan) akan muncul seorang raja; dia berbeda dengan raja-raja terdahulu dan akan merendahkan tiga raja.” (ayat 24)

Apakah yang dimaksudkan dengan kuasa tanduk kecil yang ditulis Daniel? Bangsa manakah ini? Bagaimanakah kita dapat mengenalnya? Marilah kita menganalisisnya satu persatu:

n       Pertama, ia muncul dari antara sepuluh tanduk itu. Hal ini berarti bahwa ia muncul dari kerajaan Romawi, yaitu dari kepala Kekaisaran Romawi yang adalah binatang keempat itu.

n       Kedua, ia muncul setelah sepuluh kerajaan itu. Hal ini berarti, secara urutan waktu adalah setelah tahun 476 M.

n       Ketiga, kuasa ini akan “berbeda dengan raja-raja terdahulu” (kesepuluh tanduk itu). Kesepuluh tanduk itu adalah lembaga politik saja. Tanduk kecil ini akan mendapatkan kekuasaanya dari sumber yang berbeda – yaitu dari sumber keagamaan yang segera akan kita lihat.

n       Keempat, tiga dari kesepuluh kerajaan itu akan dicabut kekuasaannya. “Ia akan merendahkan tiga raja,” tulis nabi itu.

n       Kelima, tanduk kecil ini akan mempunyai “mata seperti mata manusia.” Dalam Alkitab mata adalah lambang kecerdasa Ilahi (bacalah Efesus 1 : 18). Nabi di dalam Alkitab sering disebut “pelihat.” Ia melihat dengan kuasa penerangan Ilahi sampai kepada masa depan. Ia melihat dengan mata Allah. Tanduk ini mempunyai “mata”, bukan mata Allah, melainkan mata manusia, kepemimpinan manusia, dan kekuasaan manusia.

Jadi pertannyaannya adalah, kuasa manakah yang cocok dengan semua penjelasan ini? Kuasa apakah yang muncukl dengan sangat menonjol di Eropa bagian Barat sekitar tahun 476 M. yang mencabut kekuasaan tiga bangsa? Bagaimanakah kuasa ini berbeda dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya?

Catatan sejarah memberikan jawabnya – dan hanya ada satu jawab – untuk mengenal kuasa tanduk kecil itu. Segera setalah kerajaan Romawi itu runtuh dan sepuluh kerajaan Eropa bangkit, maka satu Negara yang berciri politik dan agama pun dibentuk. Ia memperluas pengaruhnya untuk beberapa abad lamanya dan muncul secara menonjol di Eropa bagian Barat. Ia muncul dan berkuasa tepat pada waktunya tetapi seperti yang disebukan. Kebangkitannya untuk berkuasa mengakibatkan hancurnya tiga bangsa Heruli, Ostrogoth, dan Vandal. Ketiga suku bangsa ini sudah dicabut sampai ke akar-akarnya sama seperti yang dinubuatkan. Kita masih dapat menelusuri jejak suku bangsa yang tujuh lainnya di Eropa sekarang ini. Misalnya saja, bangsa Frank berkediaman di Perancis, Anglo-Saxon di Inggris, dan Alemani di Jerman. Akan tetapi ketiga suku bangsa ini, yaiut Heruli, Ostrogoth, dan Vandal sudah secara tuntas dibinasakan dengan munculnya kuasa tanduk kecil karena perbedaan kepercayaan. Dan tanduk kecil ini, sebagai pembela iman yang ortodoks, berusaha meyakinkan ketiga suku bangsa akan kesalahan mereka. Karena sudah meyakinkan mereka maka, gereja yang sudah popular beralih dengan cara memaksanya.

Kuasa tanduk kecil itu berbeda dengan kuasa-kuasa lain yang sudah pernah memerintah. Ia memiliki kekuasaan yang bersifat politik dan agama. Nubuatan menyatakan dengan jelas, bahwa ia “berbeda” dari kerajaan-kerajaan yang lain. Dunia belum pernah melihat perpaduan yang luar biasa anatar kuasa agama dan politik seperti yang diperlihatkan oleh tanduk kecil ini.

Pada pembahasan kita mengenai nubuatan Daniel ini, alangkah baiknya jika kita memperhatikan beberapa nubuatan yang berhubungan dengan itu dari Perjanjian Baru yang ada hubungannya dengan pengalaman Jemaat Kristen yang mula-mula. Rasul Paulius sangat memperhatikan masa depan Jemaat itu. Kepada para penatua Efesus Ia memberikan nasihat berikut ini :

“Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncukl beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan menucucurkan air mata.” (Kis 20 :29-31) Terhadap amaran yang penting ini ia menamabahkan dalam seubah surat kepada orang-orang Tesalonika, “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja…” (2 Tes 2:7)

Tiga perkara yang menyusahkan Paulus akan masa depan Jemaat yang mula-mula itu. Pertama, akan terdapat tantangan dari luar. Paulus membandingkan tantangan yang datang dari luar itu seperti serigala yang ganas yang berada di tengah-tengah kawanan domba. Paulus melihat dari jauh ancaman penganiayaan oleh mana Setan akan berusaha untuk menghacurkan gereja itu.

Tetapi pengainayaan dari luar yang dilihat oleh Paulus tersebut tidak terlalu mengancam keberadaan jemaat dibandingkan dengan perhatian Paulus yang kedua ini – yaitu kedurhakaan dari dalam. Ia menyatakan, “Bahakan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang…” (bacalah Kisa 20 : 28-31). Orang-orang akan muncul dan memutarbalikkan kebenaran. Kata “memutarbalikkan” berarti mempertahankan kemurnian iman tetapi ia tahu bahwa kemurtadan akan datang. Dan memang benarlah demikian. Kepada orang-orang Tesalonika, ia menulis:

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagimanapun juga! Sebab sebelum hari itu (kedatangan Yesus yang kedua kali) haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa.” (2 Tes 2:3)

Perkara ketiga yang Paulus perhatikan adalah bahwa permualan kemurtadan itu akan datang dengan segera. Dengan kata lain, tidak akan lama lagi kemurtadan itu akan memasuki jemaat.

Kita lihat pemberontakan ini lebih rinci lagi. Bahasa Yunani yang digunakan Paulus untuk kemurtadan itu secara harfiah berarti “suatu tindakan untuk keluar dari kemurnian imannya. Paulus mengamarkan bahwa tindakan untuk keluar ini akan dipimpin oleh “manusia durhaka (atau dosa),” “orang yang dinyatakan untuk binasa.” Pernyataan “orang yang dinyatakan untuk binasa” disebutkan dalam Alkitab hanya dalam satu ayat – pada saat menjelaskan keadaan Yudas Iskariot. Yudas mengkhianati Yesus sementara ia berlaku seperti seorang sahat. Ia menunjukkan kasih saying secara luar pada hal ia sedang mengkhianati Tuhan dan Juruselamatnya.

Paulus menuggunakan istilah “orang yang dinyatakan untuk binasa” yang sama untuk menjelaskan kemurtadan yang tampak bahwa kuasa ini memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Yudas Iskariot. Dengan kata lain, kuasa ini akan mengkhianati inti Injil Kerjaan Allah, sedangkan pada saat yang sama menunjukkan dirinya sebagai seorang yang setia secara luar saja. Keadaan ini hasil tuntunan “manusia durhaka (atau dosa),” yang mengaku serta menganggap dirinya sebagai hamba Allah.

Dengan latar belakang di atas maka baiklah kita kembali ke kitab Daniel. Dalam Daniel 8, tokoh yang sama dengan tanduk kecil yang “menjadi sangat besar” telah diperlihatkan kepada Daniel. Daniel menulis bahwa “kebenaran dihempaskan ke bumi” (Dan 8:12) oleh kuasa ini.

Apakah gambarannya sudah makin jelas? Pertentangan besar sepanjang zaman bukanlah pertentangan antara yang beragama dengan yang tidak beragama. Tetapi antara kebenaran dan kesalahan. Serangna dari luar akan memurnikan dan meneguhkan jemaat. Musuh itu, yaitu “orang yang dinyatakan untuk binasa,” akan bekerja dari dalam untuk meruntuhkan kebenaran dan akan menggunakan gereja Allah yang sama untuk menyebarluaskan kepalsuan itu. Daniel menulis:

“Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia akan berusaha untuk mengubah waktu dan hokum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.” (Dan 7:25)

Jadi, kemurtadan dalam gereja Kristen itu, dalam cara-cara tertentu, akan merendahkan wewnang kuasa Allah.

Sebagaimana yang telah kita lihat pada bab sebelumnya, bahwa otoritas Allah didasarkan atas kedudukan-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta – termasuk dunia kita ini. Kita ingat kembali apa yang dituliskan oleh Yohanes penerima wahyu:

“Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi dan laut dan mata air.” (Why 14:7)

Hak Allah untuk disembah dan wewenang hokum-Nya didasarkan pada fakta bahwa Dialah yang menjadikan dunia ini. Dia jugalah yang menciptakan kita. Akan tetapi Daniel menulis bahwa kuasa tanduk kecil ini akan muncul dengan penuh keberanian merampas otoritas Allah dan “berusaha untuk mengubah waktu dan hukum.” Hukum yang dimaksudkan di sini bukan seperti hukum manusia. Hukum manusia berubah secara otomatis bilamana kerajaan yang satu mengalahkan yang lain. Itulah sebabnya nubuatan itu tentu berhubungan dengan hukum yang kekal milik Allah Yang Mahatinggi. Untuk mengubah ini, berarti, menentang Yang Mahatinggi.

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, bahwa mengubah hukum sangat bertentangan dengan pernyataan Yesus. Ia berkata:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku dating untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku dating bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat 5:17-18)

Hukum Allah akan berdiri teguh selama langit dan bumi ini ada. Meremahkan hukum ini, berarti mengurangi wewnang kuasanya, atau apabila mengubah perintahnya itu merupakan sesuatu yang tidak bias diterima. Namun Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa kuasa tanduk kecil itu akan berusaha untuk mengubahnya. Dan memang sesungguhnya telah dilakukan.

Sudah tentu, tidak semua orang yang di dalam gereja itu menerima kemurtadan itu. Mereka yang menolak akn dianiaya. “Ia akan menganiaya orang-orang kudus,” tulis nabi itu (Daniel 7:25). Hal ini tentunya berhubungan ereat dengan penganiayaan karena agama dan sejarah menyatakan kebenaran peristiwa itu.

Perhatikanlah kelanjutan ayat 25 itu: “Ia akan berusaha untuk mengubah waktu dan hukum” (Dan 7:25). Kata mengubah waktu adalah sesuatu yang menarik perhatian dan penting. Secara pengertian sepintas, tentu akan timbul dalam pikiran kita bahwa hanya ada satu pernyataan tentang waktu di dalam hukum Allah – yaitu hari Sabat dalam minggu. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan, bahwa hari Sabat itu adalah Hari Allah yang kudus, yang merupakan tanda peringatan yang kekal akan penciptaan-Nya. Allah berhenti pada hari Sabat, dan Ia memberkatinya, dan juga menguduskannya. Hari itu telah ditetapkan di Taman Eden dan akan dipelihara di Eden yang akan datang. Yesaya 66:23 menyatakan:

“Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN.”

Pertanyaannya adalah hukum manakah yang hendak diubah kuasa tanduk kecil itu. Apakah hari Sabat, sebagaimana yang ditetapkan di dalam hukum Allah itu, pernah berubah? Jikalau pernah, bagaimana? Kapan?

Dalam bab terdahulu kita sudah mempelajari bagaimana hari Sabat itu diingat dan dipelihara oleh orang Kristen mula-mula sebagai hari perhentian dan peribadatan mereka setiap minggu. Yohanes pernah mendapat penglihatan pada “Hari Tuhan” (Why 1:10). Jemaat itu tetap melanjutkan peribadatan mereka pada hari Sabat sampai akhir abad pertama. Akan tetapi pada awal abad kedua dad beberapa orang Kristen yang dengan sukarela mulai merayakan hari penyaliban Kristus. Mereka memusatkan perayaannya pada hari penyaliban Kristus yang merupakan hari raya Paskah orang Yahudi. Akan tetapi karena adanya pemberontakan yagn terus menerus dari pihak Yahudi terhadap orang Roma, maka orang Yahudi itu lama kelamaan makin tidak terkenal dan orang Kristen mulai menderita karena agamanya berasal dari sekte Yahudi. Perayaan Paskah sebagai peringatan penyaliban Kristus itu dilihat oleh sebagian orang merupakan sama lanjutan Kekristenan dari agama Yahudi. Sehingga, beberapa dari antara orang Kristen mengambil keputusan untuk membuat perubahan.

Sixtus, bishop atau “bapa” gereja Kristen di Roma memulai proses yang menuntun peralihan hari perbaiktian dari hari Sabat menjadi hari Minggu. Ia meyakinkan orang Kristen untuk merayakan Kebangkitan Yesus, pada hari Minggu, gantinya perayaan Penyaliban Kristus. Pada mulanya perayaan itu bukanlah acara mingguan, melainkan acara tahunan. Dengan mengubah perayaan ini ke hari Minggu dan menerpakannya kepada kebangkitan Yesus, orang-orang Kristen di Roma telah berhasil untuk membedakan diri dari orang Yahudi.

Dan memang perayaan hari kebangkitan Kristus ini bertepatan dengan pesta orang Romawi untuk menghormati matahari. Mereka yang tadinya penyembah matahari merasa cocok karena mereka merayakan hari kebangkitan Kristus bertepatan pada hari pemujaan dewa matahari. Itulah sebabnya Sixtus, yang mendorong orang Kristen untuk merayakan hari kebangkitan Kristus pada hari pertama dalam minggu itu. Sebenarnya sudah menempatkan mereka dalam penghormatan dwa matahari.

Peristiwa penting berikut dalam drama ini terjadi pada tahun 200 M. ketika paus Victor berusaha untuk memaksakan perayaan kebangkitan Kristus pada hari minggu yang dirayaka sekali setahun. Ia memerintahkan agar semua bishop mengucilkan mereka yang tidak mau mengikuti rencan perayaan hari kebangkitan Kristus itu. Perintah pemaksaan perayaan hari Minggu ini telah digunakan oleh bishop Roma sebagai alat dalam usahanya untuk mengontrol gereja. Socrates orang Roma, ahli sejarah gereja, menulis sesudah peristiwa itu: “Walaupun hamper semua gereja di seluruh dunia merayakan rahasia yang kudus pada hari Sabat setiap minggu, namun orang-orang Kristen di Alexandria dan di Roma, demi kepentingan tradisi kuno, telah berhenti melakukan hal itu.” “Tradisi kuno” yang dimaksudkan ialah tindakan Sixtus dan Victor yang sudah membuat penghormatan terhadap hari Minggu.

Undang-undang yang pertama kali memerintahkan beristirahat pada hari Minggu adalah perintah Kaisar Constantine pada bulan Maret tahun 321 M. perintahnya berbunyi, “Pada Hari penghormatan terhadap Matahari biarlah setiap pejabat dan orang banyak yang tinggal di kota berhenti, dan biarlah setiap took ditutup. Namun demikian, mereka yang di desa-desa, yaitu orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pertanian boleh dengan bebas dan berhak melanjutkan pekerjaannya.” SDA Source Book, hlm, 999. Ahli sejarah gereja, Philip Schaff, membuat pernyataan penting berikut ini: “…undang-undang hari Minggu yang dikeluarkan Constantine tidak boleh dinilai terlau tinggi….. tidak ada hubungan undang-undang itu dengan hukum yang keempat atau dengan kebangkitan Kristu. Mlahan ia menyatakan dengan jelas mengecualikan orang-orang yang tinggal di pedesaan…. Orang-orang Kristen dan para penyembah berhala sudah biasa dengan perayaan perhentian seperti ini; Constantine membuat perhentian ini hanya untuk menyelaraskan, dan memberikan perhatian yang lebih utama kepada hari Minggu.” – Ibid,. hlm. 999, 1000.

Lambat tapi pasti pergerakan yang mengarah kepada kemuratadan, sebagaimana yang dinubuatkan oleh Paulus dan Daniel, terjadi tepat pada waktunya. Pada tahun 386 M., Theodosius I melarang proses pengadilan pada hari Minggu dan memulai sesuatu praktik lain yang masih tersebar luas di dunia barat: “Tak seorang pun akan menuntut pemabayaran baik berbentuk utang pemerintah atau swasta [pada hari Minggu]. “Theodosius II, pada tahun 425 M., mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas olahraga rakyatnya dan melarang semua acara rekreasi, baik dalam bentuk sirkus dan bioskop, pada hari Minggu. Majelis umum ketiga Sinode di Orleans, pada tahun 538 M., melarang semua pekerjaan di daerah pedesaan pada hari Minggu. Dengan demikian, langkah demi langkah, penghormatan terhadap hari matahari diterapkan ke dalam gereja Kristen dan membuatnya sebagai hari perhentian untuk orang-orang Kristen. Memang benarlah, waktu telah diubah! (Baca Source Book, hlm. 1001, 1002.)

Apakah yang akan dikatakan gereja Roma Katolik tentang peranannya di dalam mengubah hari Sabat itu? Apakah ia setuju ataukah tidak? Bagaimanakah kedudukannya?

Gereja Roma Katolik memahami bahwa perubahan hari Sabat itu merupakan suatu tanda kekuasaan gereja. Pernyataan-pernyataan telah dibuat oleh pera penguasa gereja Katolik yang menunjukkan dengan jelas sebagai berikut:

  1. sebagai jawab terhadap pertanyaan, “Apakah engaku mempunyai cara lain untuk membuktikan bahwa gereja mempunyai kuasa untuk menetapkan hari raya atau peraturan?”, Setphen Keenan menulis, “Sekiranya ia tidak mempunyai kuasa demikain, ia tidak dapat melakukan itu di mana semua pemimpin agama modern setuju kepadanya – ia tidak dapat menggantikan pemeliharaan hari Minggu, hari pertama dalam minggu, untuk pemeliharaan hari Sabtu hari ketujuh, suatu perubahan yang tidak ada wewenang dari Alkitab.” – Stephen Keenan, A Doctrinal Catechism, hlm. 174.
  2. Sebuah komentar lain: “Anda boleh membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan Anda tidak akan pernah menemukan satu pernyataan pun yang memberikan kekuasaan untuk menguduskan hari Minggu. Alkitab menegaskan penyucian hari Sabtu, yaitu hari yang kita sendiri tidak menyucikannya.” – Kardinal Gibbons, Faith of Our Fathers, hlm. 111, 112.
  3. Selanjutnya Monsignor Segur menulis, “Gereja Katolikalh dengan wewenang Yesus Kristus yang telah mengalihkan hari perhentian itu kepada hari Minggu sebagai peringatan kebangkitan Tuhan kita. Dengan demikian pemeliharaan hari Minggu oleh orang-orang Protestan adalah satu penghormatan, tanpa mengindahkan keadaan mereka, terhadap kekuasaan Gereja [Katolik].” – Monsignor Segur, Plain Talk About the Protestantism of Today, hlm. 225.

Bapak Enright, seorang imam Gereja Roma Katolik, menulis dalam American Sentinel, New York, bahwa, “Alkitab berkata, ‘Ingatlah akan Hari Sabat supaya kamu sucikan dia.” Gereja Katolik berkata, ‘Tidak! Dengan kekuasaan Ilahi saya sudah menghapus hari Sabat dan memerintahkan kamu untuk menguduskan hari pertama di dalam minggu. Dan sekarang seluruh dunia yang berkebudayaan tunduk dan memberikan penghormatan serta menuruti perintah Gereja Roma Katolik yang kudus.’”

Pendirian Gereja Roma Katolik terlihat jelas. Daniel menubuatkan perubahan itu dan gereja Katolik mengakuinya. Malahan ia bangga menunjukkan perubahan ini sebagi bukti keuasaannya di bidang ajaran agama.

Para reformis pada zaman reformasi Protestan menyatakan perhatian mereka juga. Martin Luter, misalnya, yang banyak menyusun data Pengakuan Augsburg, berkata, “Mereka [para paus] menyatakan perubahan hari Sabat menjadi hari Tuhan, tampaknya bertentangan, dengan sepuluh Hukum; dan mereka tidak memiliki contoh lain kecuali perubahan hari Sabat itu. Mereka tentu memerlukan kekuasaan gereja yang sangat besar, karena mencabut salah satu perintah Sepuluh Hukum.” – Philip Schaff, The Creeds of Christendom, jilid 3, hlm. 64.

Walaupun semua bukti ini telah jelas, masih ada saja yang mengatakan, “Apa bedanya? Hari apa pun itu, ya hari juga namanya! Waktu, ya, waktu juga! Apakah kita memang harus tepat?” Saya yakin memang kita harus demikian. Sedangkan janji yang kita buat untuk bertemu dengan seseorang pada suatu hari pun tidak akan kita impikan pada hari sesudah hari yang ditentukan!

Masalah utama ialah bukan sekadar soal hari saja. Tetapi siapa yang membuat perintah. Marilah kita menganalisis dua pertanyaan yang sederhana: Bila kita berhenti pada hari ketujuh dalam minggu itu dan beribadah dengan hikmat kepada Alah, siapakah yang kita turuti? Jawabnya mudah saja: kita sedang menurut Allah. Bila bekerja pada hari ketujuh dalam minggu itu atau menggunakannya untuk kepentingan kesengangn diri atu urusan dagang dan berhenti serta berbakti pada hari pertama dalam minggu itu, siapakah sebenarnya yang sedang kita turuti? Sudah pasti bukan Allah, karena Allah tidak pernah memberikan perintah untuk melakukan seperti itu. Tuan manakah yang Anda rencanakan untuk dituruti Alkitab berkata:

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apaila kamu menyerahkan dirimu kepada sesorang sebagi hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itum yang harus kam taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” (Rm 6:16)

Mereka yang berani menuruti hukum Allah telah mendapati bahwa dari waktu ke waktu perintah-perintah manusia dan perintah-perintah Allah sering bertentangn. Petrus mengalami hal yang sama dan akhirnya mengambil kesimpulan: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kis 5:29)

Petrus dan rasul-rasul tidak ragu. Bila hukum Allah dipertaruhkan, keputusan mereka jelas. Dan tentunya keputusan mereka patutlah menjadi teladan kita. Walaupun hukum Allah dipertanyakan dan diubah, namun prinsipnya tetap sama selama-lamanya, yaitu: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia!”

Tantangan di hadapan kita. Di satu pihak kita memiliki Yesus Kristus yang menyatakan diri-Nya sebagai “Tuhan atas Hari Sabat.” Ia telah menyatakan dengan jelas kepada orang banyak bahwa Ia bukan datang untuk meniadakan hukum Allah atau mengurangi wewenang kekuasaannya. Sebaliknya, Ia datang untuk menunjukkan kepada kita bagaimana mentaatinya Ia berkata:

Percuma mereka beribadah keapda-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Mat 15:9)

Bukan suara Allah yang mamanggil kita untuk beribadah pada hari yang lain. Itu hanya suara manusia. Tak ada satu perintah pun dari Allah yang menyatakan kekudusan hari Minggu.

Sementara kedatangan Yesus kedua kali yang tidak lama lagi itu semakin dekat dan pekabaran Allah tentang kebenaran-Nya tersebar ke segenap penjuru dunia, tantangan Elia, yang dulu pernah memanggil umat-Nya yang sesat dari penyembahan matahari, berada di hadapan kita:

“Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN ITU Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.”(1Raj 18:21)

Tidak ada kompromi dengan dosa. Masalah penting dalam pertentangan akhir ini adalah kesetiaan kita. Pilihan itu adalah antara perintah-perintah Allah dan tradisi manusia. Yesus menyatakan hal itu dengan jelas, pada waktu Ia berkata:

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk 7:7,8)

Sahabatku, inilah pekabaran kasih Kristus bagi Anda. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hari Sabat, hari ketujuh, adalah tanda kekuasaan Sang Pencipta. Yesus Kristus tidak pernah merencanakan untuk mengubahnya. Menyadari akan hal ini, maka saya memberi tantangan kepada Anda, sebagimana Yosua memberi tantangan kepada orang Israel, sebagai berikut: “….pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos 24:15). Apakah Anda mau berkata, “Saya memilih Yesus dan perintah-perintah Allah. Saya mau, dengan pertolongan kasih karunia Allah sejak hari ini, untuk mengingat hari Sabat dan menguduskannya?”

Ribuan orang di sepanjang zaman, telah mengasihi Yesus dengan sebaik-baiknya dan menuruti Dia dengan sepenuhnya. Pada bab berikut Anda akan membaca beberapa kisah yang mengharukan yang pernah dicatat tentang orang-orang yang setia terhadap hari Sabat Allah.

Oleh: giovanyglagun | Juni 24, 2009

Demi Cinta – Kerispatih

Maaf ku telah menyakitimu

Ku telah kecewakanmu

Bahkan ku sia-siakan hidupku

Dan ku bawa kau seperti diriku

Walau hati ini t’rus menangis

Menahan kesakitan ini

Tapi kulakukan semua demi cinta

Akhirnya juga harus kurelakan

Kehilangan cinta sejatiku

Segalanya t’lah ku berikan

Juga semua kekuranganku

Jika memang ini yang terbaik

Untuk diriku dan dirinya

Kan ku t’rima semua demi cinta

Jujur aku tak kuasa

Saat terakhir ku genggam tanganmu

Namun yang pasti terjadi

Kita mungkin tak bersama lagi

Bila nanti esok hari

Kutemukan dirimu bahagia

Tapi ijinkan aku titipkan

Kisah cinta kita selamanya

Oleh: giovanyglagun | Maret 21, 2009

I will love you untill my dying day

Never knew I could feel like this

It’s like I’ve never seen the sky before

Want to vanish inside your kiss

Everyday I’m loving you more and more

Listen to my heart can you hear it sing?

Come back to me and forgive everything

Seasons may change winter to spring

“I love you” till the end of time

Come what may come what may

Come what may come what may

I will love you until my dying day

Suddenly the world

Seems such a perfect place

Suddenly it moves

With such a perfect grace

Suddenly my life doesn’t seem

Such a waste

It all revolves around you

And there’s no mountain too high

No river too wide

Sing out this song

And I’ll be ther by your side

Storms cloud may gather

And stars may collide

But I love you

Until the end of time

Oleh: giovanyglagun | Maret 21, 2009

Moulin Rouge “I’ll fly away”

I follow the night

Can’t stand the light

When will I begin

To live again

One day I’ll fly away

Leave all this to yesterday

What more could your love do for me

When will love

Be through with me

Why live life

Fromm dream to dream?

And dread the day

When dreaming

Ends “how wonderful life is now you’re in the world”

One day I’ll fly away

Leave all this to yesterday

Why live life

From dream to dream

And dread the day

When dreaming ends

One day I’ll fly away

Fly, fly away

Oleh: giovanyglagun | Maret 19, 2009

Hari Yang Hampir Dilupakan Bab 2

2

Kebenaran Menjelaskan Kepalsuan

Cerita-cerita dongeng dengan mudah diterima sebagai kebenaran bila hal itu telah lama berada di antara kita. Misalkan saja laba-laba. Sekitar tahun 350 S.M., Aristoteles, filsuf Yunani, mengelompokkan laba-laba itu sebagai serangga berkaki enam. Sejak itu, selama 20 abad, orang mempercayai bahwa laba-laba berkaki enam. Tak seorang pun yang peduli untuk menghitungnya. Lebih daripada itu, siapa yang mau menantang Aristoteles yang hebat itu?

Datanglah Lamarck, seorang ahli ilmu hayat dan pencinta alam. Ia menghitung dengan teliti kaki laba-laba. Cobalah terka, berapakan jumlah kaki laba-laba. Tepatnya adalah delapan! Cerita dongeng yang selama ini sudah diajarkan sebagai kebenaran untuk berabad-abad lamanya diruntuhkan karena Lamarck mau menghitungnya.

Copernicus yang memiliki pemikiran bebas, seorang Polandia, pernah juga menantang satu “kebenaran” yang dipercayai oleh orang-orang yang menamakan dirinya “ilmuwan” pada zamannya. “Mataharilah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat tata surya,” katanya. Orang-orang di gereja menyatakan, ”Hal itu tidak bias demikian! Engkau tidak dapat mengubah keadaan langit milik Allah.” Akan tetapi Copernicus bukanlah mengubah langit milik Allah. Ia hanya menyatakan kebenaran dan menjelaskan satu kepalsuan.

Masih banyak lagi contoh kepalsuan, baik dari segi ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Banyak orang yang sudah mempercyainya selama ini. Walaupun tidak semua berakibat kristis karena menerima kepalsuan-kepalsuan di bidang ilmu pengetahuan, namun kepalsuan di bidang agama akan mengakibatkan hidup atau matinya orang tersebut. Dengan kata lain, sehubungan dengan perkara-perkara yang kekal maka kesanggupan untuk membedakan fakta dan fiksi, kepalsuan dan kebenaran adalah sangat penting.

Akan tetapi bagaimanakah kita mengetahui yang manakah kepercayaan agama yang palsu dan mana yang benar? Bagaimanakah kita dapat membedakan atara fakta-fakta keagamaan yang nyata dengan yang fiksi? Apakah yang menjadi sumber otoritas kita?

Tanpa diragukan, Allah sajalah sumber otoritas kita yang terakhir. Dan Alkitablah sebagai catatan firman-Nya. Di dalamnya berisi kebenaran kekal yang tidak dapat berubah. Dengan mempelajari Firman Allah, kepalsuan di bidang agama yang sudah dipercayai berabad-abad lamanya akan nyata.

Kitab Wahyu menyatakan dengan tepat adanya kepalsuan itu. Pekabaran besar yang menyediakan anak-anak Allah bagi kedatangan Tuhan terdapat dalam Wahyu 14:6-12. kita membaca kata-kata ini di ayat 7:

“… Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Pada pembacaan pertama, ayat ini kelihatannya tidak menyatakan sejenis kepalsuan di bidang agama. Akan tetapi marilah kita jelaskan lebih lanjut.

Pekabaran tentang dekatnya penghakiman Allah tersebut sangatlah penting sehingga Allah menggambarkannya sebagai pekabaran yang dibawakan oleh tiga malaikat yang terbang dengan cepat dari takhta-Nya di tengah-tengah langit ke seluruh dunia. Pekabaran itu patut dibawakan dengan cepat seperti apai yang menjalar menjilat belukar yang kering, kepada semua bangsa, suku, bahasa dan kaum (ayat 6). Pekabaran ini harius menjangkau semua batas wilayah bumi ini. Hal itu akan menjebatani segala kelompok budaya dan bahasa. Ketika penghakiman surga yang terakhir semakin dekat, Wahyu 14 ayat 7 dengan tegas mendesak semua umat manusia agar kembali menyembah Sang Pencipta.

Akan tetapi agar dapat kembali kepada penyembahan Sang Pencipta itu, kita harus memahami artinya terlebih dulu. Dasar peribadatan adalah menyadari kenyataan bahwa kita adalah makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sebab yang utama mengapa Allah layak menjadi sasaran peribadatan kita yang tertinggi adalah karena Ia menciptakan kita. Wahyu 4 : 11 menegaskan:

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Pada zaman di mana hipotesis yang bersifat evolusi telah menguasai dunia ilmu pengetahuan dengan hebatnya, Alkitab pun telah mengirimkan satu pekabaran untuk memanggil semua orang untuk menyembah Kristus sebagai Pencipta. Efesus 3:9-11 memberikan pengertian yang penting itu sebagai berikut:

“…dan akan menerangkan kepada orang sekalian bagaimana halnya menjalankan rahasia yang telah beberapa zaman lamanya tersembunyi di dalam Allah, yang menjadikan semesta sekalian,…menurut seperti maksud-Nya yang kekal, yang ditetapkan-Nya di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (terjemahan lama, lihat juga Kol 1:13-17.)

Bagaimanakah segala sesuatu diciptakan? “Oleh Yesus Kristus!” Pekabaran yang berkumandanag terus di zaman akhir ini, yang mengajak semua orang di mana pun ia berada, untuk “menyembah Dia yang menjadikan langit dan bumi”, adalah satu pekabaran yang memanggil semua orang untuk menyembah Yesus Kristus sebagai Pencipta.

Bagaimanakah caranya seseorang dapat menyembah Kristus sebagai Pencipta? Apakah Ia meninggalkan satu tanda peringatan akan karya ciptaan-Nya? Apakah tanda peringatan penciptaan-Nya itu?

Apabila kita membuka kitab Keluaran, di sana kita dapati, pada pusat Perintah Allah itu – yaitu Sepuluh Firman – satu tanda peringatan sehubungan dengan kuasa ciptaan-Nya. Itu adalah tanda peringatan yang bilamana diingat, akan tetap terpelihara dengan segar dalam ingatan kita bahwa Dialah Pencipta dan kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Tanda peringatan ini dijelaskan dalam Keluaran 20:8-11 sebagai berikut:

“Ingatlah kamu akan hari Sabat, supaya kamu sucikan dia. Bahwa enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja dan mengerjakan segala pekerjaanmu; tetapi hari yang ketujuh itulah Sabat Tuhan, Allahmu, pada hari itu jangan kamu bekerja, baik kamu, atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau binatangmu, atau orang dagang yang ada di dalam pintu gerbangmu. Karena dalam enam hari lamanya Tuhan telah menjadikan langit dan bumi dan laut, dengan segala isinya, maka berhentilah Tuhan pada hari yang ketujuh, sebab itulah Tuhan memberkati akan hari Sabat itu dan menyucikannya.” (Perpaduan Terjemahan Lama dan Baru.)

Allah berfirman, “Ingatlah untuk menyucikan hari Sabat, karena itu adalah sastu tanda per-ingatan akan karya ciptaan-Ku.”

Perhatikanlah persamaan cara penuturan kata-kata itu dalam Wahyu 14:7 dan juga Keluaran 20:11. pekabaran penting untuk kepentingan generasi terakhir adalah:

“Sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi dan laut dan segala mata air.” (Wahyu 14: 7)

Keluaran 20:11 berkata:

“Karena dalam enam hari lamanya Tuhan telah menjadikan langit dan bumi dan laut, dengan segala isinya,…”

Kekudusan Hukum Hari Sabat terkandung dengan jelas pada pusat Hukum Allah itu sebagai satu tanda peringatan yang kekal akan wewenang-Nya yang tertinggi dan kuasa penciptaan-Nya. Tepatlah hal itu sebagai tanda Penciptaan.

Marilah kita kembali ke buku pertama di dalam Alkitab, yaitu Kejadian, melihat kembali suasana penciptaan. Seluruh pasal satu dalam kitab Kejadian memberikan penjelasan tentang proses penciptaan dan keindahan serta cemerlangnya Eden. Setelah itu, Kejadian 2 memulainya sebagai berikut:

“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. (Kej 2:1-3)

Setelah menciptakan dunia ini dalam enam hari lamanya, Allah menetapkan hari ketujuh sebagai satu tanda peringatan terhadap karya ciptaan-Nya.

Tiga perkara yang berhubungan erat dengan penetapan tanda peringatan ini:

n Pertama, Allah berhenti (ayat 2). Bukan karena Ia merasa lelah, akan tetapi karena ingin memberikan contoh kepada umat manusia. Sudah menjadi rencana-Nya agar pada setiap hari ketujuh umat manusia sepatutnya berhenti dari pekerjaanya sebagaimana yang dilakukan Sang Pencipta. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada kita bahwa Dialah pencipta dunia ini.

n Ke dua, Allah memberkati hari ketujuh itu (ayat 3). Allah mengambil 24 jam dalam sehari itu dan membubuhi satu berkat istimewa di dalamnya. Melalui pertemuan istimewa dengan Allah pada hari itu Ia menyediakan berkat istimewa pula – yaitu kekuatan yang diperbaharui, hati yang penuh damai, dan satu kehidupan yang lebih akrab dengan Dia.

n Ke tiga, Allah menguduskan atau membuat hari ketujuh itu kudus. Istilah “menguduskan” berarti memuliakan atau mengasingkan sesuatu untuk maksud yang suci – dipersembahkan; itu berkaitan dengan sesuatu yang suci dan bukan yang biasa. Allah sajalah satu-satunya yang dapat membuat perkara-perkara itu suci atau mulia. Peribadatan umat manusia yang sejati berarti mengikutsertakan penghormatan terhadap apa saja yang sudah Allah kuduskan – karena Ia, sebagai Allah, sudah membuat hal itu kudus! Dan sesuai dengan pernyataan kitab Kejadian, Allah telah membuat hari ketujuh itu kudus.

Dengan demikian Sabat hari ketujuh telah diciptakan oleh Allah sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya. Hari itu adalah hari kudus.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengatakan, “Hari yang mana pun adalah baik. Tidak ada bedanya hari apa pun yang kita pelihara, asalkan kita memelihara salah satu dari tujuh hari itu.” Akan tetapi, coba perhatikan dengan jelas apa yang diajarkan Alkitab. Hari apakah yang Allah kuduskan? Hari ketujuh. Tidak ada ayat mana pun dalam Alkitab yang menyatakn bahwa Allah berhenti, memberkati, atau pun menguduskan hari pertama atau hari ketiga atau hari kelima dalam minggu itu. Satu-satunya hari yang ditetapkan Allah hanyalah hari ketujuh. Sehingga hari itulah satu-satunya hari yang dapat menjadi satu tanda peringatan akan Penciptaan-Nya. Dalam enam hari Allah bekerja – Ia menciptakan karya agung-Nya. Kemudian, pada hari ketujuh, Ia menetapkan satu tanda peringatan akan karya agung-Nya itu – Hari Sabat – hari di mana Ia berhenti. Tidak ada hari lain yang cocok untuk itu.

Misalkan saja hari kelahiran Anda tanggal 25 Juni. Pada hari itulah anda dilahirkan. Jikalau seseorang berkata, “Apa bedanya? Anda boleh saja merayakan hari ulang tahun itu pada tanggal 24 Juni atau 26 Juni. Tidak ada masalah, bukan?” Tanpa ragu-ragu anda akan menjawab, “Tentu saja ada bedanya! Tanggal lahir saya adalah 25 Juni, dan bagaimana meriah pun perayaan itu pada tanggal sebelumnya atau sesudahnya, namun tidak ada fakta apa pun yang dapat mengubah hari lahir saya, bahwa saya lahir tanggal 25 Juni!” Atau, misalkan saja Anda menikah pada satu tanggal tertentu. Setiap tahun, pada hari yang istimewa itu, anda merayakan pernyataan janji setia anda kepada pasangan anda. Hari pernikahan anda itu mengingatkan anada akan janji setia anda dengan pasangan anda. Hari itu adalah hari yang istimewa untuk dirayakan bersama-sama.

Begitu juga dengan hari Sabat. Hanya ada satu hari khusus yang ditetapkan dan kuduskan Allah yaitu hari ketujuh.

Sepanjang sejarah dunia, hari Sabat sudah dipelihara sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan Kristus. Hari itu merupakan tanda kesetiaan-Nya, kebebasan-Nya, dan kasih-Nya sepanjang zaman. Bacalah Yehezkiel 20:20 “Kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

Sepanjang zaman Perjanjian Lama, hari Sabat menjadi satu tanda kesetiaan. Hari itu membedakan umat Allah dengan umat yang tidak percaya pada Allah. Hari itu telah ditetapkan pada saat penciptaan dan dipelihara sebelum munculnya bangsa Israel. Hari itu telah dipelihara oleh umat Allah sepanjang zaman Perjanjian Lama.

Sekarang, bagaimana dengan Perjanjian Baru? Juga bagaimana dengan Yesus Kristus? Apakah yang menjadi kebiasaan-Nya? Oleh karena Dialah teladan agung kita, dan “barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2 : 6), dengan demikian sangat masuk di akal kita untuk mengikuti teladan-Nya sebagai penuntun.

Marilah kit abaca Alkitab Perjanjian Baru. Dalam Lukas 4:16 kita dapati pernyataan yang jelas sebagai berikut:

“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadah, lalu berdiri hendak membacakan dari Alkitab.”

Kebiasaan Kristus, praktik hidup-Nya, adalah menghadiri rumah ibadah pada hari Sabat. Seandainya kita membayangkan ke belakang ke tempat Yesus bekerja di pertukangan yang kecil, maka kita akan mendengar suara pukulan martil dan gergaji – paling tidak pada fari pertama dalam minggu itu atau pun hari ke duanya atau pun salah satu hari dalam minggu itu – kecuali hari ketujuh. Boleh jadi kita akan melihat sastu tanda di depan pertukangan itu, “Buka.” Akan tetapi pada hari ketujuh pertukangan akan berhenti, dan tanda yang kecil di depan pertukangan itu akan berubah menjadi, “Tutup pada hari Sabat.”

Namun beberapa orang mengatakan, “Yesus adalah seorang Yahudi dan itulah sebabnya Ia memelihara hari Sabat.” Apakan dikatakan dalam Keluaran 20:10?”\ “..tetapi hari ketujuh itu adalah hari Sabat TUHAN Allahmu.” Jadi, hari Sabat bukanlah milik orang Yahudi! Hari itu adalah hari Sabat TUHAN. Itu adalah hari Kristus – satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya. Hari Sabat sudah ditetapkan pada saat penciptaan manusia berabad-abad sebelum orang Yahudi muncul sebagai satu bangsa. Benarlah sebagaimana Yesus nyatakan dalam Markus 2:27, “Hari Sabat diadakan untuk manusia.”

Ada mengatakan bahwa Kristus sudah mengubah hari Sabat itu ketika Ia datang ke bumi ini. Marilah kita teliti hal ini. Masuk akalkah itu? Jikalau Kristus datang untuk mengubah hari Sabat, jikalau dia datang untuk mengubah hokum yang ditulis oleh jari Allah sendiri di Bukit Sinai, bukankah Ia akan mengubahnya selagi Ia masih hidup? Bukankah Ia akan menyatakan kepada murid-murid-Nya tentang perubahan ini? Sebaliknya, Ia bahkan menyatakan bahwa Ia meninggalkan bagi kita satu teladan dalam pemeliharaan hari Sabat. Ia berkata:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hokum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17)

Marilah kita lihat pernyataan Yesus itu lebih lanjut. Beberapa komentar Yesus sehubungan dengan itu. Dalam Matius 24, Yesus sedang berbincang-bincang tentang kebinasaan Yerusalem yang akan terjadi kemudian pada tahun 70M. (Sekitar 40 tahun setelah penyaliban) dan Ia menasihati:

“Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada Hari Sabat.” (Matius 24:20)

Tentu sangat berarti nasihat Yesus ini kepada para pengikut-Nya yang paling dekat itu. Hal ini tentunya menegaskan bahwa Yesus tidak berencana untuk mengubah hari Sabat.

Akan tetapi, bagaimana setelah Yesus kembali ke surga? Apakah yang dilakukan para Rasul itu? Apakah Alkitab memberitahukan kepada kita hari yang dipahami para Rasul dan Jemaat yang mula-mula sebagai hari Sabat? Diberitahukankah kepada kita hari yang disucikan oleh jemaat Perjanjian Baru? Kisah 13:14 mengatakan:

“Dari Perga mereka [Paulus dan Barnabas] melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia, Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadah, lalu duduk di situ.”

Pada saat upacara kebaktian hari Sabat pagi itu, Paulus dan Barnabas mendapat kesempatan untuk mengkhotbahkan Kristus sebagai kegenapan apa yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama (ayat 15). Walaupun banyak orang Yahudi marah, namun orang-orang kafir yang ada di tempat itu suka mendengarkan. Ayat 42 melanjutkan:

“Tatkala mereka keluar, maka sangatlah orang-orang itu minta supaya perkataan itu dikatakan kepada mereka itu pada Hari Sabat yang akan datang.” (Terjemahan Lama)

Orang-orang kafir (bangsa-bangsa lain) itu masih ingin mendengar Paulus berkhotbah kali berikutnya. Coba perhatikan bagaimana cerita itu selanjutnya dalam ayat 44: “Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.” Seandainya Paulus adalah pemelihara hari Minggu, yaitu hari pertama dalam minggu, maka ia akan mengatakan kepada orang-orang Kristen yang tadinya kafir, seperti ini, “Kamu tidak perlu menunggu sampai hari Sabat depan. Datanglah besok, pada hari Minggu. Itulah hari baru bagi orang-orang Kristen yang berasal dari kafir.” Akan tetapi Paulus tidak menyatakan seperti itu. Alkitab menceritakan bahwa orang-orang itu mendengarkan Paulus pada hari Sabat berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa empat belas tahun sesudah kebangkitan Yesus, murid-murid itu masih memelihara hari Sabat.

Jadi, Jemaat Perjanjian Baru adalah pemelihara hari Sabat. Jelaslah bahwa tidak ada satu perintah untuk memelihara hari yang lain. Tidak terdapat satu ayat pun yang menyatakan bahwa para Rasul itu mengajarkan bahwa Yesus sudah mengubah hari Sabat.

Rasul Yohanes, murid yang dikasihi itu, memberikan satu bukti lain. Sementara dibuang di pulau Patmos yang berbatu, Yohanes menulis:

“Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,….” (why 1:10).

Yohanes menyatakan bahwa ada satu hari yang istimewa di mana para pengikut Yesus beribadah sepanjang abad pertama itu. Hari itu disebut “Hari Tuhan.” Akan tetapi Yohanes tidak memberitahukan kepada kita hari manakah di dalam minggu itu sebagai hari itu. Namun demikian, satu-satunya otoritas adalah perkataan Kristus sendiri. Sudah tentu Dia mengetahui hari manakah hari di mana Dialah Tuhannya! Dalam Matius 12:8, Ia menyatakan, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Dalam ayat ini kita lihat satu pernyataan yang jelas. Hari Sabat adalah hari Tuhan. Kristuslah Tuhan atas hari Sabat. Hari itu adalah milik-Nya.

Namun ada bertanya, “Dapatkah kita dengan tepat memeberitahukan hari apakah hari ketujuh itu? Allah mempunyai satu hari istimewa. Hari itu adalah hari Sabat. Akan tetapi, sebenarnya kita tidak dapat memberitahukan hari manakah hari ketujuh itu.” Baiklah, kita akan mendalaminya lebih lanjut. Apakah kira-kira masuk akal bahwa Yesus yang sudah menetapkan satu hari sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya – satu hari yang istimewa di mana semua orang akan beribadah kepada-Nya – tetapi tidak menyatakan hari apakah itu? Tentunya tidak! Hal itu tidak masuk akal. Harus ada bukti pernyataan tentang hari apakah hari Allah yang istimewa itu. Marilah kita menelitinya.

Ada tiga cara yang dapat kita tempuh untuk mengenal dengan jelas Sabat hari ketujuh itu:

n berdasarkan Alkitab.

n berdasarkan ilmu bahasa.

n Berdasarkan ilmu perbintangan

Marilah kita mulai yang pertama dengan melihat bukti Alkitab. Alkitab menunjukkan dengan jelas kepada kita. Dalam Lukas pasal 23 diceritakan mengenai penyaliban Kristus. Ketika Lukas menulis tentang hari pada saat Kristus mati, Ia menyatakan dalam ayat 54 sebagai berikut:

“Hari itu adalah hari persiapan (hari di saat mana Kristus mati) dan Sabat hampir mulai.”

Kemudian dalam ayat 56, Lukas menjelaskan aktivitas yang perempuan-perempuan itu (para pengikut Yesus) dilakukan pada hari sesudah kematian Kristus. Ia menulis:

“Maka kembalilah mereka itu serta menyediakan rempah-rempah yang harum dan minyak bau-bauan. Maka pada Hari Sabat mereka itu pun berhentilah menurut hukum Taurat.” (Alkitab Terjemahan Lama)

Jadi, hukum Taurat masih teteap berlaku sesudah penyaliban Kristus, dan perempuan-perempuan ini sebagai pengikut Kristus, tetep memeliharanya. Mereka mengasihi Tuhannya; itulah sebabnya mereka memelihara hukum Taurat dan berhenti pada Hari Sabat sementara Yesus berada di kubur. Peristiwa kebangkitan Yesus dijelaskan pada pasal 24 ayat 1 sebagai berikut:

“Tetapi pada hari yang pertama di dalam minggu itu, yaitu pada waktu dini hari, pergilah perempuan-perempuan itu ke kubur membawa rempah-rempah yang harum, yang disediakannya itu.” (Alkitab Terjemahan Lama)

Lukas mencatat tentang tiga hari yang berurutan, yaitu: Pertama, hari persiapan – hari di saat mana Kristus mati. Kedua, hari Sabat – hari di saat mana perempuan-perempuan berhenti. Ketiga, hari pertama dalam minggu itu – hari di saat mana Yesus bangkit.

Dunia Kristen pada dasarnya sependapat mengenai hari apa Kristus mati. Kita menyebutnya sebagai Hari Jumat Agung! Dan bagaimana dengan hari kebangkitan Kristus? Tidak ada masalah untuk menyatakannya. Orang-orang Kristen di seluruh dunia ini merayakannya sebagai Hari Kebangkitan Kristus yaitu pada hari Minggu (Easter Sunday). Dengan demikian ketiga hari yang berurutan itu adalah sebagai berikut: hari di saat mana Kristus mat adalah hari Jumat; hari di saat mana Kristus berada di dalam kubur adalah hari Sabat; dan hari di saat mana Kristus bangkit adalah hari Minggu. Hari Sabat berada di antara hari Jumat dan hari Minggu, atau yang dalam kalender ktia disebut hari Sabtu. Dengan menggunakan matematika yang sederhana, karena hari Minggu adalah hari yang pertama dalam minggu, kemudian hari Jumat adalah hari ke enam, maka hari Sabtu adalah hari ketujuh. Alkitab menjelaskan hal ini dengan sangat sederhana.

Kedua, marilah kita melihat bukti tambahan – berdasarkan ilmu bahasa. Lihatlah dalam kamus yang biasa digunakan. Carilah kata “Sabtu,” dan apakah penjelasan yang Anda dapati di sana? “Sabat – Sabtu; hari ketujuh (hari Tuhan beristirahat sesudah menciptakan alam semesta, menurut kitab Taurat).” – Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 763. dengan demikian, jelaslah bahwa hari Sabtu adalah hari ketujuh dalam minggu, dank arena hari Sabat adalah hari ketujuh, maka hari Sabtu adalah hari Sabat. Dalam 108 bahasa di dunia ini mengartikan hari Sabtu itu sebagai “Hari Sabat.” Dalam bahasa Portugis dan Spanyol menyebutnya “Sabado”; bahasa Rusia menyebutnya “Subbata”; bahasa Bulgaria katakana “Shubbuta”; dan orang Arab menyebutnya “As-Sabt.” Jadi, bahasa di dunia memberikan kesaksian tentang suatu kenyataan yang agung dan mulia bahwa hari Sabat adalah hari ketujuh dalam minggu itu – yaitu hari Sabtu.

Ketiga, bagaimana dengan ilmu perbintangan? Apakah ada bukti di sana? Sudahkah anda memperhatikan kalender lalu melihat hari apakah hari ketujuh itu? Apakah yang anda temukan? Di sana tertulis Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Atau dalam bahasa Inggris disebut Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday. Apakah selalu perputarannya seperti itu? Dari manakah asal mula siklus mingguan ini? Dari matahari? Bukan – siklus tahunlah yang diatur oleh matahari (hal itu adalah pada saat bumi berotasi mengelilingi matahari sebanyak satu kali). Apakah siklus mingguan itu di atur oleh bulan? Juga bukan – karena bulan mengatur siklus bulanan (hal itu adalah pada saat bulan mengelilingi bumi sebanyak satu kali). Bagaimana dengan perputaran bumi pada porosnya? Ini juga bukan – karena hal ini adalah siklus harian (satu hari adalah pada saat bumi berputar sebanyak satu kali pada porosnya).

Sehubungna dengan usaha untuk mendapatkan bukti yang nyata tentang asal usul dan berkesinambungannya siklus mingguan, saya memutuskan untuk menulis surat kepada ahli ilmu perbintangan kerajaan di Royal Greenwich Observatory, London, Inggris. Observatorium Greenwich ini menyimpan catatan yang akurat tentang waktu di seluruh dunia. Inilah surat saya yang ditulis pada tangga 11 Februari 1974:

”Tuan yang terhormat:

”Pada saat ini saya sedang mengadakan penelitian tentang urutan siklus mingguan yang tidak pernah putus. Beberapa ahli ilmu perbintangan Eropa menyatakan bahwa siklus mingguan telah sampai kepada kita secara terus menerus dan tidak pernah putus sejak waktu yang lalu; dengan kata lain, bahwa hari ketujuh yang kita miliki dalam siklus mingguan sekarang ini, misalnya, adalah sama dengan hari ketujuh dalam minggu yang terdapat di zaman Alkitab. Pertanyaan saya terbagi dalam tiga bagian:

1. Apakah hasil penyelidikan anda sehubungan dengan siklus mingguan yang tidak pernah putus sejak masa lalu itu?

2. Apakah dengan adanya perubahan kalender di masa lalu (dari Julian ke Gregorian, dan sebagainya) mempengaruhi siklus mingguan tersebut?

3. Apakah hari Sabtu yang kita miliki pada zaman ini mempunyai pernyataan garis lurus yang sama dalam siklus tujuh hari dibandingkan dengan hari Sabtu yang disebutkan dalam catatan Alkitab pada hari penyaliban Kristus?

”Saya sangat menghargai waktu yang anda gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan dengan segera mengharapkan jawabanya.

Hormat saya,

Mark Finley”

Dan inilah jawabannya:

”Tuan yang terhormat:

”Surat saudara yang ditujukan kepada ahli ilmu perbintangan kerajaan di Greenwich telah dikirimkan kepada kami, dan pimpinannya telah meminta saya untuk menjawabnya.

”Kesinambungan tujuh hari dalam satu minggu sudah dipertahankan sejak zaman yang paling awal dalam agama orang Yahudi.

”Ahli perbintangan boleh jadi menaruh perhatian sehubungan dengan keputusan-keputusan tentang waktu, tanggal di kalender, dan tahun. Akan tetapi oleh karena siklus mingguan adalah siklus sipil, sosial, dan agama, maka tidak ada alasan apapun yang membuat hal itu diganggu oleh penyesuaian yang terjadi di dalam kalender. Setiap usaha yang dilakukan untuk mengganggu siklus tujuh hari itu selalu saja menimbulkan tantangan yang sangat keras dari pihat kekuasaan bangsa Yahudi, dan kita memastikan bahwa tidak ada gangguan apapun yang terjadi karena perubahan yang dilakukan. Perubahan model kalender dari Julian ke Gregorian (1582-1927) sudah terjadi tetapi siklus urutan hari dalam mingguan itu tidak berubah.

Sahabatmu,

R. H. Tucker

Pegawai urusan penerangan”

***

Sudah tentu tidak dapat diraguakn lagi! Pembuktian dari sejarah Alkitabiah, dari bahasa-bahasa di dunia, dan juga dari ilmu perbintangan sangat jelas, hari Sabat Alkitab adalah hari Sabtu, yaitu hari ketujuh dalam minggu.

Bila kenyataan ini muncul di lingkungan kebanyakan orang, mereka sering bertanya, ”Bagaimanakah dengan sanak keluarga saya dan sahabat-sahabat saya yang tidak pernah mengerti tentang Hari Sabat? Bagaimana jugakah orang-orang Kristen pada zaman dulu yang percaya kepada Yesus, namun tidak pernah mengetahui kebenaran ini?” Alkitab dengan jelas menyatakan:

”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yak 4:17)

Tanggungjawab kitalah untuk mengikuti terang kebenaran yang kita miliki. Itu sajalah yang dituntut dari kita. Akan tetapi, sekarang ini ketika pekabaran tiga malaikat dari kitab Wahyu sudah diberitakan ke seluruh dunia – ”kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” dengan suara yang nyaring, katanya: ”Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (Why 14:7) – Allah sedang memanggil kita untuk kembali kepada penyucian hari Sabat.

Walaupun kelompok pemelihara Hari Sabat kelihatannya sedikit pada mulanya, orang-orang yang agung sepanjang zaman telah memelihara hari itu. Adam adalah seorang pemelihara hari Sabat, demikian juga Musa dan Elia, Yesaya dan Daud. Semua orang besar dalam Perjanjian Lama menuruti dengan setia Hukum Allah dan memelihara Hari yang Tuhan berkati, kudustkan, dan tetapkan di saat Penciptaan. Begitu pula para Rasul adalah pemelihara hari Sabat juga.

Tetapi yang lebih utama dari antara mereka adalah Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus. Sebagai pencipta yang agunag, Ia berhenti pada Hari Sabat sesudah Ia menciptakan dunia ini. Ia memberkati hari itu dan menguduskannya. Kemudian, beratus-ratus tahun setelah itu, sebgai Anak Manusia, Ia hidup di tengah-tengah umat manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun. Adalah menjadi kebiasaanya untuk berhenti dan beribadah pada hari yang Ia tetapkan pada saat penciptaan.

Dan sekarang ini, Yesus yang sama pula merentangkan tangan-Nya kepada anda dan saya – tangan yang dulu pernah dipakukan di kayu salib di bukit Golgota karena dosa kita – mengimbau dengan penuh kelemahlembutan, ”Ikutlah Aku.” Ribuan orang dengan gembira menyambutnya dari tahun ke tahun yang sekarang ini sedang menyebah Dia pada hari yang Ia sendiri telah tetapkan sebagai hari Sabat – hari ketujuh – yaitu hari Sabtu. Mereka mempunyai perwakilan hampir di setiap negara di dunia ini. Anda akan menjumpai mereka hampir di setiap pulau yang ada penduduknya. Kesaksian mereka yang universal adalah bahwa hari Sabat itu telah membawa satu kesukaan baru dan berkat yang besar ke dalam hidup Kristianinya.

Apakah pilihan Anda sekarang? Maukah anda berdiri teguh dengan Kristus dan para murid-Nya? Maukah anda menerima undangan kasih sayang Yesus sementara Ia mengimbau,”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh 14:15)?

Oleh: giovanyglagun | Maret 17, 2009

Friendship

Friendship is a priceless gift
that cannot be bought or sold,
But its value is far greater
than a mountain made of gold.

For gold is cold and lifeless,
it can neither see nor hear
And in the time of trouble
it is powerless to cheer…

It has no ears to listen
Nor heart to understand,
It cannot bring you comfort
or reach out a helping hand.

So when you ask God for a gift
be thankful if He sends
not diamonds, pearls or riches
but the love of real true friends.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori