2
Kebenaran Menjelaskan Kepalsuan
Cerita-cerita dongeng dengan mudah diterima sebagai kebenaran bila hal itu telah lama berada di antara kita. Misalkan saja laba-laba. Sekitar tahun 350 S.M., Aristoteles, filsuf Yunani, mengelompokkan laba-laba itu sebagai serangga berkaki enam. Sejak itu, selama 20 abad, orang mempercayai bahwa laba-laba berkaki enam. Tak seorang pun yang peduli untuk menghitungnya. Lebih daripada itu, siapa yang mau menantang Aristoteles yang hebat itu?
Datanglah Lamarck, seorang ahli ilmu hayat dan pencinta alam. Ia menghitung dengan teliti kaki laba-laba. Cobalah terka, berapakan jumlah kaki laba-laba. Tepatnya adalah delapan! Cerita dongeng yang selama ini sudah diajarkan sebagai kebenaran untuk berabad-abad lamanya diruntuhkan karena Lamarck mau menghitungnya.
Copernicus yang memiliki pemikiran bebas, seorang Polandia, pernah juga menantang satu “kebenaran” yang dipercayai oleh orang-orang yang menamakan dirinya “ilmuwan” pada zamannya. “Mataharilah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat tata surya,” katanya. Orang-orang di gereja menyatakan, ”Hal itu tidak bias demikian! Engkau tidak dapat mengubah keadaan langit milik Allah.” Akan tetapi Copernicus bukanlah mengubah langit milik Allah. Ia hanya menyatakan kebenaran dan menjelaskan satu kepalsuan.
Masih banyak lagi contoh kepalsuan, baik dari segi ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Banyak orang yang sudah mempercyainya selama ini. Walaupun tidak semua berakibat kristis karena menerima kepalsuan-kepalsuan di bidang ilmu pengetahuan, namun kepalsuan di bidang agama akan mengakibatkan hidup atau matinya orang tersebut. Dengan kata lain, sehubungan dengan perkara-perkara yang kekal maka kesanggupan untuk membedakan fakta dan fiksi, kepalsuan dan kebenaran adalah sangat penting.
Akan tetapi bagaimanakah kita mengetahui yang manakah kepercayaan agama yang palsu dan mana yang benar? Bagaimanakah kita dapat membedakan atara fakta-fakta keagamaan yang nyata dengan yang fiksi? Apakah yang menjadi sumber otoritas kita?
Tanpa diragukan, Allah sajalah sumber otoritas kita yang terakhir. Dan Alkitablah sebagai catatan firman-Nya. Di dalamnya berisi kebenaran kekal yang tidak dapat berubah. Dengan mempelajari Firman Allah, kepalsuan di bidang agama yang sudah dipercayai berabad-abad lamanya akan nyata.
Kitab Wahyu menyatakan dengan tepat adanya kepalsuan itu. Pekabaran besar yang menyediakan anak-anak Allah bagi kedatangan Tuhan terdapat dalam Wahyu 14:6-12. kita membaca kata-kata ini di ayat 7:
“… Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”
Pada pembacaan pertama, ayat ini kelihatannya tidak menyatakan sejenis kepalsuan di bidang agama. Akan tetapi marilah kita jelaskan lebih lanjut.
Pekabaran tentang dekatnya penghakiman Allah tersebut sangatlah penting sehingga Allah menggambarkannya sebagai pekabaran yang dibawakan oleh tiga malaikat yang terbang dengan cepat dari takhta-Nya di tengah-tengah langit ke seluruh dunia. Pekabaran itu patut dibawakan dengan cepat seperti apai yang menjalar menjilat belukar yang kering, kepada semua bangsa, suku, bahasa dan kaum (ayat 6). Pekabaran ini harius menjangkau semua batas wilayah bumi ini. Hal itu akan menjebatani segala kelompok budaya dan bahasa. Ketika penghakiman surga yang terakhir semakin dekat, Wahyu 14 ayat 7 dengan tegas mendesak semua umat manusia agar kembali menyembah Sang Pencipta.
Akan tetapi agar dapat kembali kepada penyembahan Sang Pencipta itu, kita harus memahami artinya terlebih dulu. Dasar peribadatan adalah menyadari kenyataan bahwa kita adalah makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sebab yang utama mengapa Allah layak menjadi sasaran peribadatan kita yang tertinggi adalah karena Ia menciptakan kita. Wahyu 4 : 11 menegaskan:
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Pada zaman di mana hipotesis yang bersifat evolusi telah menguasai dunia ilmu pengetahuan dengan hebatnya, Alkitab pun telah mengirimkan satu pekabaran untuk memanggil semua orang untuk menyembah Kristus sebagai Pencipta. Efesus 3:9-11 memberikan pengertian yang penting itu sebagai berikut:
“…dan akan menerangkan kepada orang sekalian bagaimana halnya menjalankan rahasia yang telah beberapa zaman lamanya tersembunyi di dalam Allah, yang menjadikan semesta sekalian,…menurut seperti maksud-Nya yang kekal, yang ditetapkan-Nya di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (terjemahan lama, lihat juga Kol 1:13-17.)
Bagaimanakah segala sesuatu diciptakan? “Oleh Yesus Kristus!” Pekabaran yang berkumandanag terus di zaman akhir ini, yang mengajak semua orang di mana pun ia berada, untuk “menyembah Dia yang menjadikan langit dan bumi”, adalah satu pekabaran yang memanggil semua orang untuk menyembah Yesus Kristus sebagai Pencipta.
Bagaimanakah caranya seseorang dapat menyembah Kristus sebagai Pencipta? Apakah Ia meninggalkan satu tanda peringatan akan karya ciptaan-Nya? Apakah tanda peringatan penciptaan-Nya itu?
Apabila kita membuka kitab Keluaran, di sana kita dapati, pada pusat Perintah Allah itu – yaitu Sepuluh Firman – satu tanda peringatan sehubungan dengan kuasa ciptaan-Nya. Itu adalah tanda peringatan yang bilamana diingat, akan tetap terpelihara dengan segar dalam ingatan kita bahwa Dialah Pencipta dan kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Tanda peringatan ini dijelaskan dalam Keluaran 20:8-11 sebagai berikut:
“Ingatlah kamu akan hari Sabat, supaya kamu sucikan dia. Bahwa enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja dan mengerjakan segala pekerjaanmu; tetapi hari yang ketujuh itulah Sabat Tuhan, Allahmu, pada hari itu jangan kamu bekerja, baik kamu, atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau binatangmu, atau orang dagang yang ada di dalam pintu gerbangmu. Karena dalam enam hari lamanya Tuhan telah menjadikan langit dan bumi dan laut, dengan segala isinya, maka berhentilah Tuhan pada hari yang ketujuh, sebab itulah Tuhan memberkati akan hari Sabat itu dan menyucikannya.” (Perpaduan Terjemahan Lama dan Baru.)
Allah berfirman, “Ingatlah untuk menyucikan hari Sabat, karena itu adalah sastu tanda per-ingatan akan karya ciptaan-Ku.”
Perhatikanlah persamaan cara penuturan kata-kata itu dalam Wahyu 14:7 dan juga Keluaran 20:11. pekabaran penting untuk kepentingan generasi terakhir adalah:
“Sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi dan laut dan segala mata air.” (Wahyu 14: 7)
Keluaran 20:11 berkata:
“Karena dalam enam hari lamanya Tuhan telah menjadikan langit dan bumi dan laut, dengan segala isinya,…”
Kekudusan Hukum Hari Sabat terkandung dengan jelas pada pusat Hukum Allah itu sebagai satu tanda peringatan yang kekal akan wewenang-Nya yang tertinggi dan kuasa penciptaan-Nya. Tepatlah hal itu sebagai tanda Penciptaan.
Marilah kita kembali ke buku pertama di dalam Alkitab, yaitu Kejadian, melihat kembali suasana penciptaan. Seluruh pasal satu dalam kitab Kejadian memberikan penjelasan tentang proses penciptaan dan keindahan serta cemerlangnya Eden. Setelah itu, Kejadian 2 memulainya sebagai berikut:
“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. (Kej 2:1-3)
Setelah menciptakan dunia ini dalam enam hari lamanya, Allah menetapkan hari ketujuh sebagai satu tanda peringatan terhadap karya ciptaan-Nya.
Tiga perkara yang berhubungan erat dengan penetapan tanda peringatan ini:
n Pertama, Allah berhenti (ayat 2). Bukan karena Ia merasa lelah, akan tetapi karena ingin memberikan contoh kepada umat manusia. Sudah menjadi rencana-Nya agar pada setiap hari ketujuh umat manusia sepatutnya berhenti dari pekerjaanya sebagaimana yang dilakukan Sang Pencipta. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada kita bahwa Dialah pencipta dunia ini.
n Ke dua, Allah memberkati hari ketujuh itu (ayat 3). Allah mengambil 24 jam dalam sehari itu dan membubuhi satu berkat istimewa di dalamnya. Melalui pertemuan istimewa dengan Allah pada hari itu Ia menyediakan berkat istimewa pula – yaitu kekuatan yang diperbaharui, hati yang penuh damai, dan satu kehidupan yang lebih akrab dengan Dia.
n Ke tiga, Allah menguduskan atau membuat hari ketujuh itu kudus. Istilah “menguduskan” berarti memuliakan atau mengasingkan sesuatu untuk maksud yang suci – dipersembahkan; itu berkaitan dengan sesuatu yang suci dan bukan yang biasa. Allah sajalah satu-satunya yang dapat membuat perkara-perkara itu suci atau mulia. Peribadatan umat manusia yang sejati berarti mengikutsertakan penghormatan terhadap apa saja yang sudah Allah kuduskan – karena Ia, sebagai Allah, sudah membuat hal itu kudus! Dan sesuai dengan pernyataan kitab Kejadian, Allah telah membuat hari ketujuh itu kudus.
Dengan demikian Sabat hari ketujuh telah diciptakan oleh Allah sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya. Hari itu adalah hari kudus.
Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengatakan, “Hari yang mana pun adalah baik. Tidak ada bedanya hari apa pun yang kita pelihara, asalkan kita memelihara salah satu dari tujuh hari itu.” Akan tetapi, coba perhatikan dengan jelas apa yang diajarkan Alkitab. Hari apakah yang Allah kuduskan? Hari ketujuh. Tidak ada ayat mana pun dalam Alkitab yang menyatakn bahwa Allah berhenti, memberkati, atau pun menguduskan hari pertama atau hari ketiga atau hari kelima dalam minggu itu. Satu-satunya hari yang ditetapkan Allah hanyalah hari ketujuh. Sehingga hari itulah satu-satunya hari yang dapat menjadi satu tanda peringatan akan Penciptaan-Nya. Dalam enam hari Allah bekerja – Ia menciptakan karya agung-Nya. Kemudian, pada hari ketujuh, Ia menetapkan satu tanda peringatan akan karya agung-Nya itu – Hari Sabat – hari di mana Ia berhenti. Tidak ada hari lain yang cocok untuk itu.
Misalkan saja hari kelahiran Anda tanggal 25 Juni. Pada hari itulah anda dilahirkan. Jikalau seseorang berkata, “Apa bedanya? Anda boleh saja merayakan hari ulang tahun itu pada tanggal 24 Juni atau 26 Juni. Tidak ada masalah, bukan?” Tanpa ragu-ragu anda akan menjawab, “Tentu saja ada bedanya! Tanggal lahir saya adalah 25 Juni, dan bagaimana meriah pun perayaan itu pada tanggal sebelumnya atau sesudahnya, namun tidak ada fakta apa pun yang dapat mengubah hari lahir saya, bahwa saya lahir tanggal 25 Juni!” Atau, misalkan saja Anda menikah pada satu tanggal tertentu. Setiap tahun, pada hari yang istimewa itu, anda merayakan pernyataan janji setia anda kepada pasangan anda. Hari pernikahan anda itu mengingatkan anada akan janji setia anda dengan pasangan anda. Hari itu adalah hari yang istimewa untuk dirayakan bersama-sama.
Begitu juga dengan hari Sabat. Hanya ada satu hari khusus yang ditetapkan dan kuduskan Allah yaitu hari ketujuh.
Sepanjang sejarah dunia, hari Sabat sudah dipelihara sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan Kristus. Hari itu merupakan tanda kesetiaan-Nya, kebebasan-Nya, dan kasih-Nya sepanjang zaman. Bacalah Yehezkiel 20:20 “Kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”
Sepanjang zaman Perjanjian Lama, hari Sabat menjadi satu tanda kesetiaan. Hari itu membedakan umat Allah dengan umat yang tidak percaya pada Allah. Hari itu telah ditetapkan pada saat penciptaan dan dipelihara sebelum munculnya bangsa Israel. Hari itu telah dipelihara oleh umat Allah sepanjang zaman Perjanjian Lama.
Sekarang, bagaimana dengan Perjanjian Baru? Juga bagaimana dengan Yesus Kristus? Apakah yang menjadi kebiasaan-Nya? Oleh karena Dialah teladan agung kita, dan “barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2 : 6), dengan demikian sangat masuk di akal kita untuk mengikuti teladan-Nya sebagai penuntun.
Marilah kit abaca Alkitab Perjanjian Baru. Dalam Lukas 4:16 kita dapati pernyataan yang jelas sebagai berikut:
“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadah, lalu berdiri hendak membacakan dari Alkitab.”
Kebiasaan Kristus, praktik hidup-Nya, adalah menghadiri rumah ibadah pada hari Sabat. Seandainya kita membayangkan ke belakang ke tempat Yesus bekerja di pertukangan yang kecil, maka kita akan mendengar suara pukulan martil dan gergaji – paling tidak pada fari pertama dalam minggu itu atau pun hari ke duanya atau pun salah satu hari dalam minggu itu – kecuali hari ketujuh. Boleh jadi kita akan melihat sastu tanda di depan pertukangan itu, “Buka.” Akan tetapi pada hari ketujuh pertukangan akan berhenti, dan tanda yang kecil di depan pertukangan itu akan berubah menjadi, “Tutup pada hari Sabat.”
Namun beberapa orang mengatakan, “Yesus adalah seorang Yahudi dan itulah sebabnya Ia memelihara hari Sabat.” Apakan dikatakan dalam Keluaran 20:10?”\ “..tetapi hari ketujuh itu adalah hari Sabat TUHAN Allahmu.” Jadi, hari Sabat bukanlah milik orang Yahudi! Hari itu adalah hari Sabat TUHAN. Itu adalah hari Kristus – satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya. Hari Sabat sudah ditetapkan pada saat penciptaan manusia berabad-abad sebelum orang Yahudi muncul sebagai satu bangsa. Benarlah sebagaimana Yesus nyatakan dalam Markus 2:27, “Hari Sabat diadakan untuk manusia.”
Ada mengatakan bahwa Kristus sudah mengubah hari Sabat itu ketika Ia datang ke bumi ini. Marilah kita teliti hal ini. Masuk akalkah itu? Jikalau Kristus datang untuk mengubah hari Sabat, jikalau dia datang untuk mengubah hokum yang ditulis oleh jari Allah sendiri di Bukit Sinai, bukankah Ia akan mengubahnya selagi Ia masih hidup? Bukankah Ia akan menyatakan kepada murid-murid-Nya tentang perubahan ini? Sebaliknya, Ia bahkan menyatakan bahwa Ia meninggalkan bagi kita satu teladan dalam pemeliharaan hari Sabat. Ia berkata:
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hokum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17)
Marilah kita lihat pernyataan Yesus itu lebih lanjut. Beberapa komentar Yesus sehubungan dengan itu. Dalam Matius 24, Yesus sedang berbincang-bincang tentang kebinasaan Yerusalem yang akan terjadi kemudian pada tahun 70M. (Sekitar 40 tahun setelah penyaliban) dan Ia menasihati:
“Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada Hari Sabat.” (Matius 24:20)
Tentu sangat berarti nasihat Yesus ini kepada para pengikut-Nya yang paling dekat itu. Hal ini tentunya menegaskan bahwa Yesus tidak berencana untuk mengubah hari Sabat.
Akan tetapi, bagaimana setelah Yesus kembali ke surga? Apakah yang dilakukan para Rasul itu? Apakah Alkitab memberitahukan kepada kita hari yang dipahami para Rasul dan Jemaat yang mula-mula sebagai hari Sabat? Diberitahukankah kepada kita hari yang disucikan oleh jemaat Perjanjian Baru? Kisah 13:14 mengatakan:
“Dari Perga mereka [Paulus dan Barnabas] melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia, Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadah, lalu duduk di situ.”
Pada saat upacara kebaktian hari Sabat pagi itu, Paulus dan Barnabas mendapat kesempatan untuk mengkhotbahkan Kristus sebagai kegenapan apa yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama (ayat 15). Walaupun banyak orang Yahudi marah, namun orang-orang kafir yang ada di tempat itu suka mendengarkan. Ayat 42 melanjutkan:
“Tatkala mereka keluar, maka sangatlah orang-orang itu minta supaya perkataan itu dikatakan kepada mereka itu pada Hari Sabat yang akan datang.” (Terjemahan Lama)
Orang-orang kafir (bangsa-bangsa lain) itu masih ingin mendengar Paulus berkhotbah kali berikutnya. Coba perhatikan bagaimana cerita itu selanjutnya dalam ayat 44: “Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.” Seandainya Paulus adalah pemelihara hari Minggu, yaitu hari pertama dalam minggu, maka ia akan mengatakan kepada orang-orang Kristen yang tadinya kafir, seperti ini, “Kamu tidak perlu menunggu sampai hari Sabat depan. Datanglah besok, pada hari Minggu. Itulah hari baru bagi orang-orang Kristen yang berasal dari kafir.” Akan tetapi Paulus tidak menyatakan seperti itu. Alkitab menceritakan bahwa orang-orang itu mendengarkan Paulus pada hari Sabat berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa empat belas tahun sesudah kebangkitan Yesus, murid-murid itu masih memelihara hari Sabat.
Jadi, Jemaat Perjanjian Baru adalah pemelihara hari Sabat. Jelaslah bahwa tidak ada satu perintah untuk memelihara hari yang lain. Tidak terdapat satu ayat pun yang menyatakan bahwa para Rasul itu mengajarkan bahwa Yesus sudah mengubah hari Sabat.
Rasul Yohanes, murid yang dikasihi itu, memberikan satu bukti lain. Sementara dibuang di pulau Patmos yang berbatu, Yohanes menulis:
“Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,….” (why 1:10).
Yohanes menyatakan bahwa ada satu hari yang istimewa di mana para pengikut Yesus beribadah sepanjang abad pertama itu. Hari itu disebut “Hari Tuhan.” Akan tetapi Yohanes tidak memberitahukan kepada kita hari manakah di dalam minggu itu sebagai hari itu. Namun demikian, satu-satunya otoritas adalah perkataan Kristus sendiri. Sudah tentu Dia mengetahui hari manakah hari di mana Dialah Tuhannya! Dalam Matius 12:8, Ia menyatakan, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Dalam ayat ini kita lihat satu pernyataan yang jelas. Hari Sabat adalah hari Tuhan. Kristuslah Tuhan atas hari Sabat. Hari itu adalah milik-Nya.
Namun ada bertanya, “Dapatkah kita dengan tepat memeberitahukan hari apakah hari ketujuh itu? Allah mempunyai satu hari istimewa. Hari itu adalah hari Sabat. Akan tetapi, sebenarnya kita tidak dapat memberitahukan hari manakah hari ketujuh itu.” Baiklah, kita akan mendalaminya lebih lanjut. Apakah kira-kira masuk akal bahwa Yesus yang sudah menetapkan satu hari sebagai satu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya – satu hari yang istimewa di mana semua orang akan beribadah kepada-Nya – tetapi tidak menyatakan hari apakah itu? Tentunya tidak! Hal itu tidak masuk akal. Harus ada bukti pernyataan tentang hari apakah hari Allah yang istimewa itu. Marilah kita menelitinya.
Ada tiga cara yang dapat kita tempuh untuk mengenal dengan jelas Sabat hari ketujuh itu:
n berdasarkan Alkitab.
n berdasarkan ilmu bahasa.
n Berdasarkan ilmu perbintangan
Marilah kita mulai yang pertama dengan melihat bukti Alkitab. Alkitab menunjukkan dengan jelas kepada kita. Dalam Lukas pasal 23 diceritakan mengenai penyaliban Kristus. Ketika Lukas menulis tentang hari pada saat Kristus mati, Ia menyatakan dalam ayat 54 sebagai berikut:
“Hari itu adalah hari persiapan (hari di saat mana Kristus mati) dan Sabat hampir mulai.”
Kemudian dalam ayat 56, Lukas menjelaskan aktivitas yang perempuan-perempuan itu (para pengikut Yesus) dilakukan pada hari sesudah kematian Kristus. Ia menulis:
“Maka kembalilah mereka itu serta menyediakan rempah-rempah yang harum dan minyak bau-bauan. Maka pada Hari Sabat mereka itu pun berhentilah menurut hukum Taurat.” (Alkitab Terjemahan Lama)
Jadi, hukum Taurat masih teteap berlaku sesudah penyaliban Kristus, dan perempuan-perempuan ini sebagai pengikut Kristus, tetep memeliharanya. Mereka mengasihi Tuhannya; itulah sebabnya mereka memelihara hukum Taurat dan berhenti pada Hari Sabat sementara Yesus berada di kubur. Peristiwa kebangkitan Yesus dijelaskan pada pasal 24 ayat 1 sebagai berikut:
“Tetapi pada hari yang pertama di dalam minggu itu, yaitu pada waktu dini hari, pergilah perempuan-perempuan itu ke kubur membawa rempah-rempah yang harum, yang disediakannya itu.” (Alkitab Terjemahan Lama)
Lukas mencatat tentang tiga hari yang berurutan, yaitu: Pertama, hari persiapan – hari di saat mana Kristus mati. Kedua, hari Sabat – hari di saat mana perempuan-perempuan berhenti. Ketiga, hari pertama dalam minggu itu – hari di saat mana Yesus bangkit.
Dunia Kristen pada dasarnya sependapat mengenai hari apa Kristus mati. Kita menyebutnya sebagai Hari Jumat Agung! Dan bagaimana dengan hari kebangkitan Kristus? Tidak ada masalah untuk menyatakannya. Orang-orang Kristen di seluruh dunia ini merayakannya sebagai Hari Kebangkitan Kristus yaitu pada hari Minggu (Easter Sunday). Dengan demikian ketiga hari yang berurutan itu adalah sebagai berikut: hari di saat mana Kristus mat adalah hari Jumat; hari di saat mana Kristus berada di dalam kubur adalah hari Sabat; dan hari di saat mana Kristus bangkit adalah hari Minggu. Hari Sabat berada di antara hari Jumat dan hari Minggu, atau yang dalam kalender ktia disebut hari Sabtu. Dengan menggunakan matematika yang sederhana, karena hari Minggu adalah hari yang pertama dalam minggu, kemudian hari Jumat adalah hari ke enam, maka hari Sabtu adalah hari ketujuh. Alkitab menjelaskan hal ini dengan sangat sederhana.
Kedua, marilah kita melihat bukti tambahan – berdasarkan ilmu bahasa. Lihatlah dalam kamus yang biasa digunakan. Carilah kata “Sabtu,” dan apakah penjelasan yang Anda dapati di sana? “Sabat – Sabtu; hari ketujuh (hari Tuhan beristirahat sesudah menciptakan alam semesta, menurut kitab Taurat).” – Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 763. dengan demikian, jelaslah bahwa hari Sabtu adalah hari ketujuh dalam minggu, dank arena hari Sabat adalah hari ketujuh, maka hari Sabtu adalah hari Sabat. Dalam 108 bahasa di dunia ini mengartikan hari Sabtu itu sebagai “Hari Sabat.” Dalam bahasa Portugis dan Spanyol menyebutnya “Sabado”; bahasa Rusia menyebutnya “Subbata”; bahasa Bulgaria katakana “Shubbuta”; dan orang Arab menyebutnya “As-Sabt.” Jadi, bahasa di dunia memberikan kesaksian tentang suatu kenyataan yang agung dan mulia bahwa hari Sabat adalah hari ketujuh dalam minggu itu – yaitu hari Sabtu.
Ketiga, bagaimana dengan ilmu perbintangan? Apakah ada bukti di sana? Sudahkah anda memperhatikan kalender lalu melihat hari apakah hari ketujuh itu? Apakah yang anda temukan? Di sana tertulis Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Atau dalam bahasa Inggris disebut Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday. Apakah selalu perputarannya seperti itu? Dari manakah asal mula siklus mingguan ini? Dari matahari? Bukan – siklus tahunlah yang diatur oleh matahari (hal itu adalah pada saat bumi berotasi mengelilingi matahari sebanyak satu kali). Apakah siklus mingguan itu di atur oleh bulan? Juga bukan – karena bulan mengatur siklus bulanan (hal itu adalah pada saat bulan mengelilingi bumi sebanyak satu kali). Bagaimana dengan perputaran bumi pada porosnya? Ini juga bukan – karena hal ini adalah siklus harian (satu hari adalah pada saat bumi berputar sebanyak satu kali pada porosnya).
Sehubungna dengan usaha untuk mendapatkan bukti yang nyata tentang asal usul dan berkesinambungannya siklus mingguan, saya memutuskan untuk menulis surat kepada ahli ilmu perbintangan kerajaan di Royal Greenwich Observatory, London, Inggris. Observatorium Greenwich ini menyimpan catatan yang akurat tentang waktu di seluruh dunia. Inilah surat saya yang ditulis pada tangga 11 Februari 1974:
”Tuan yang terhormat:
”Pada saat ini saya sedang mengadakan penelitian tentang urutan siklus mingguan yang tidak pernah putus. Beberapa ahli ilmu perbintangan Eropa menyatakan bahwa siklus mingguan telah sampai kepada kita secara terus menerus dan tidak pernah putus sejak waktu yang lalu; dengan kata lain, bahwa hari ketujuh yang kita miliki dalam siklus mingguan sekarang ini, misalnya, adalah sama dengan hari ketujuh dalam minggu yang terdapat di zaman Alkitab. Pertanyaan saya terbagi dalam tiga bagian:
1. Apakah hasil penyelidikan anda sehubungan dengan siklus mingguan yang tidak pernah putus sejak masa lalu itu?
2. Apakah dengan adanya perubahan kalender di masa lalu (dari Julian ke Gregorian, dan sebagainya) mempengaruhi siklus mingguan tersebut?
3. Apakah hari Sabtu yang kita miliki pada zaman ini mempunyai pernyataan garis lurus yang sama dalam siklus tujuh hari dibandingkan dengan hari Sabtu yang disebutkan dalam catatan Alkitab pada hari penyaliban Kristus?
”Saya sangat menghargai waktu yang anda gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan dengan segera mengharapkan jawabanya.
Hormat saya,
Mark Finley”
Dan inilah jawabannya:
”Tuan yang terhormat:
”Surat saudara yang ditujukan kepada ahli ilmu perbintangan kerajaan di Greenwich telah dikirimkan kepada kami, dan pimpinannya telah meminta saya untuk menjawabnya.
”Kesinambungan tujuh hari dalam satu minggu sudah dipertahankan sejak zaman yang paling awal dalam agama orang Yahudi.
”Ahli perbintangan boleh jadi menaruh perhatian sehubungan dengan keputusan-keputusan tentang waktu, tanggal di kalender, dan tahun. Akan tetapi oleh karena siklus mingguan adalah siklus sipil, sosial, dan agama, maka tidak ada alasan apapun yang membuat hal itu diganggu oleh penyesuaian yang terjadi di dalam kalender. Setiap usaha yang dilakukan untuk mengganggu siklus tujuh hari itu selalu saja menimbulkan tantangan yang sangat keras dari pihat kekuasaan bangsa Yahudi, dan kita memastikan bahwa tidak ada gangguan apapun yang terjadi karena perubahan yang dilakukan. Perubahan model kalender dari Julian ke Gregorian (1582-1927) sudah terjadi tetapi siklus urutan hari dalam mingguan itu tidak berubah.
Sahabatmu,
R. H. Tucker
Pegawai urusan penerangan”
***
Sudah tentu tidak dapat diraguakn lagi! Pembuktian dari sejarah Alkitabiah, dari bahasa-bahasa di dunia, dan juga dari ilmu perbintangan sangat jelas, hari Sabat Alkitab adalah hari Sabtu, yaitu hari ketujuh dalam minggu.
Bila kenyataan ini muncul di lingkungan kebanyakan orang, mereka sering bertanya, ”Bagaimanakah dengan sanak keluarga saya dan sahabat-sahabat saya yang tidak pernah mengerti tentang Hari Sabat? Bagaimana jugakah orang-orang Kristen pada zaman dulu yang percaya kepada Yesus, namun tidak pernah mengetahui kebenaran ini?” Alkitab dengan jelas menyatakan:
”Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yak 4:17)
Tanggungjawab kitalah untuk mengikuti terang kebenaran yang kita miliki. Itu sajalah yang dituntut dari kita. Akan tetapi, sekarang ini ketika pekabaran tiga malaikat dari kitab Wahyu sudah diberitakan ke seluruh dunia – ”kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” dengan suara yang nyaring, katanya: ”Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (Why 14:7) – Allah sedang memanggil kita untuk kembali kepada penyucian hari Sabat.
Walaupun kelompok pemelihara Hari Sabat kelihatannya sedikit pada mulanya, orang-orang yang agung sepanjang zaman telah memelihara hari itu. Adam adalah seorang pemelihara hari Sabat, demikian juga Musa dan Elia, Yesaya dan Daud. Semua orang besar dalam Perjanjian Lama menuruti dengan setia Hukum Allah dan memelihara Hari yang Tuhan berkati, kudustkan, dan tetapkan di saat Penciptaan. Begitu pula para Rasul adalah pemelihara hari Sabat juga.
Tetapi yang lebih utama dari antara mereka adalah Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus. Sebagai pencipta yang agunag, Ia berhenti pada Hari Sabat sesudah Ia menciptakan dunia ini. Ia memberkati hari itu dan menguduskannya. Kemudian, beratus-ratus tahun setelah itu, sebgai Anak Manusia, Ia hidup di tengah-tengah umat manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun. Adalah menjadi kebiasaanya untuk berhenti dan beribadah pada hari yang Ia tetapkan pada saat penciptaan.
Dan sekarang ini, Yesus yang sama pula merentangkan tangan-Nya kepada anda dan saya – tangan yang dulu pernah dipakukan di kayu salib di bukit Golgota karena dosa kita – mengimbau dengan penuh kelemahlembutan, ”Ikutlah Aku.” Ribuan orang dengan gembira menyambutnya dari tahun ke tahun yang sekarang ini sedang menyebah Dia pada hari yang Ia sendiri telah tetapkan sebagai hari Sabat – hari ketujuh – yaitu hari Sabtu. Mereka mempunyai perwakilan hampir di setiap negara di dunia ini. Anda akan menjumpai mereka hampir di setiap pulau yang ada penduduknya. Kesaksian mereka yang universal adalah bahwa hari Sabat itu telah membawa satu kesukaan baru dan berkat yang besar ke dalam hidup Kristianinya.
Apakah pilihan Anda sekarang? Maukah anda berdiri teguh dengan Kristus dan para murid-Nya? Maukah anda menerima undangan kasih sayang Yesus sementara Ia mengimbau,”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh 14:15)?